Selamat datang di situs CV. Mandiri Kreatif

CV. MANDIRI KREATIF adalah sebuah perusahaan yang didirikan di Kota Bandung pada tanggal 18 Februari 2010. Perusahaan ini bergerak dalam perdagangan barang dan jasa. CV. MANDIRI KREATIF telah banyak mendapatkan proyek-proyek pemerintah dan swasta. Komitmen kami adalah memberikan kualitas layanan terbaik, yang menjadi motivasi kami dalam mencapai prestasi untuk menjadi mitra di bidang pengadaan barang dan jasa yang berkualitas. Sejarah usaha kami selalu mengembangkan sumber daya manusia dan mencari inovasi baru dalam meningkatkan mutu kerja didukung peningkatan sarana produksi hingga pendukung usaha lainnya.

Jumat, 07 Desember 2018

Hari ini Alipay anak perusahaan Alibaba China disahkan menjadi alat bayar non tunai di Indonesia.

Hari ini Alipay anak perusahaan Alibaba China disahkan menjadi alat bayar non tunai di Indonesia. Mereka tidak menggunakan nama "alipay" disini tapi menggunakan nama "DANA" supaya tidak dicurigai rakyat. Serta menggandeng Emtek Group. Dengan disahkan Alipay maka buyarkan kedaulatan keuangan di Republik Indonesia karena Alipay adalah eMoney asing pertama yang disetujui pemerintah. Sebelumnya ada eMoney (bank mandiri) ) Flazz (bank BCa) tapcash (bank BNI) tapcash Tkomsel paytrends (ustad yusuf mansyur). Semu milik dalam negeri

Karena pemerintah sudah sedemikian open maka kita tak bisa berharap pada regulasi. Kita yang harus memilih menggunakan cashless money yang mana. Utamaknlah yg dikeluarkan bank BUMN dan yg syariah.

Mari kita bayangkan bahwa jika menggunaka cashless money DANA (qq Alipay) maka kita harus mendepositkan nilai tertentu (misalnya 100 ribu) ke bank mereka dan uang itu akan mengendap disana sebelum dipakai oleh kita.

Nantinya DANA (qq Alipay) pasti akan bekerjasama dengan toko2 tertentu dimana kalau belanja di toko tsb dengan kartu DANA maka akan ada diskon khusus 40% misalnya. Jadi tujuan jangka panjangnya bisa bersifat strategis karena masyrakat diarahkan hanya belanja menggunakan kartu DANA ke toko2 yang berafiliasi dengan mereka. Akhirnya arus uang dan arus retail.bisa dikendalikan oleh merekA.

Karena itu kedepan sangat penting kita memilih kartu non tunai (cashless) yang tepat dan bukan memperkaya bangsa lain.

Erick Thohir SOS...SOS Politik

Erick Thohir SOS...SOS
Politik

Ada kabar baru, stagnasi suara pemilih Jokowi mulai bergerak. Sayangnya, bukan naik, tapi justru turun. Saya tak peduli bagaimana kondisi Prabowo. Kalah sudah biasa baginya. Mungkin sudah jadi semacam tradisi.

Tetapi untuk Jokowi, ini jadi pertaruhan serius. Bagi orang-orang yang melihat perkembangan baik di era Jokowi, ini akan jadi kabar duka. Dari hasil pengamatan selama ini, Tim Kampanye Nasional Jokowi-Amin itu mandul.
Hasil yang tidak memuaskan itu memang akumulasi banyak hal. Namun jelas ada masalah di sana. Sebelum menjadi semakin parah, kerusakan itu harus secepatnya diperbaiki.
Tentunya, puncak kegusaran bertumpu pada nama besar Erick Thohir dan timnya. Apa yang sudah dikerjakan orang ini? Atau kita bikin sederhana saja, konsep apa yang menjadi acuan kerja mereka? Sejauh ini saya tak melihat adanya rel yang kokoh. Semuanya abstrak dan asal ngalir.
Pada titik ini, sebenarnya Jokowi benar-benar ditinggal sendiri.
Orang-orang partai itu lebih mirip benalu. Mereka menempel Jokowi, tapi tak ada timbal-balik. Barangkali ada setumpuk rencana, ribuan meeting. Namun tanpa hasil.
Pemilih loyal Jokowi hari ini adalah hasil jerih-payah Jokowi sendiri. Sisa-sia dari pancaran pamornya, yang sayangnya telah sampai puncaknya. Dengan ungkapan klise, mulai meredup. Jika boleh menyebut, mungkin ada kelompok-kelompok kecil yang tulus bekerja. Tapi mereka seperti berada di luar sistem.
Makin tergerusnya suara Jokowi mengindikasikan, mesin politiknya tak bekerja dengan baik. Sekadar mempertahankan yang ada saja tak bisa. Padahal Pilpres masih cukup lama. Jika trend ini terus terjadi, lampu merah untuk Jokowi.
Di medsos Jokowi sudah kalah. Seleb medsos pendukung Jokowi mungkin banyak, tapi hasil akhirnya tak seriuh sebelah. Tidak ada ledakan berkesinambungan. Satu energi yang konstan. Kini, trend di dunia nyata juga mengalami penurunan. Padahal sebagai incumbent, Jokowi punya hampir segalanya.
Lalu apa saja yang sudah mereka kerjakan?

Nyatanya, kelengkapan persenjataan politik itu tidak menambah efek apa-apa. Bertahan pada titik aman saja tak. Sementara saya melihat relawan masih mabuk kemenangan. Beberapa tampak bekerja. Yang lain entah menunggu apa. Sepertinya masih saling curi pandang dengan Erick Thohir. Dugaan saya, logistik belum turun.
Pilpres 2019 memang memunculkan gairah berbeda. Dulu 2014, orang-orang berjuang pro bono demi memenangkan lelaki cungkring dari Solo itu. Sekarang dalam pengamatan saya, banyak yang masuk angin. Ingin tampil paling depan, tapi tak jelas jasanya.
Pamrih ini membuat gerak mereka kurang lincah. Saling lihat dan tunggu. Kecintaan seperti dulu terhadap Jokowi, agaknya mulai luntur. Banyak yang sekadar menempel-jilat pada kue manis kekuasaan. Cita-cita demi Indonesia yang lebih baik, mulai kurang gaungnya.
Ini memang baru lampu kuning, tapi krusial sifatnya. Sebaiknya TKN itu perlu dievaluasi lagi. Mereka yang tak bisa bekerja, diberi tugas ringan saja, misalnya sibuk jual retorika di media massa. Urusan permesinan politik, serahkan pada ahlinya. TKN harus dibentuk menjadi sebuah organ solid. Orang-orang yang jelas fungsi dan kerjanya.
Kubu Jokowi-Amin agaknya masih dalam sikap nyaman dan tenang. Mereka sibuk membayangkan, nanti dapat posisi apa?
Padahal kekacauan sedang direncanakan di sebelah. Seolah memang tanpa bentuk dan ngawur. Tapi mereka terus bekerja. Mereka sebenarnya menunggu momentum untuk membuat kerusakan. Mungkin berawal dari satu kesalahan kecil. Soal kesabaran, kekalahan telah menempa mereka demikian.
Timses Prabowo memang lebih gemuk dan tampak asal pasang. Tetapi, militansi mereka jangan dipertanyakan lagi. Ingat bagaimana PKS mendoktrin jamaahnya. Belum lagi dendam kesumat Gerindra dan klan Muhamadiyahnya Amien. Bohir politik yang kecewa dengan sepak-terjang Jokowi, pastinya tak diam begitu saja.
Gerakan sekecil apapun harus diwaspadai. Terutama kesalahan dari organ sendiri. Tidak ada kelas remedial dalam kasus ini. Seperti sepenggal puisi getir Chairil, "Sekali berarti / sudah itu mati."
Ini sinyal darurat untuk Erick Thohir. Ada tanda-tanda pergeseran posisi serang di lautan. Sementara biduk yang dikendalikannya mengalami kebocoran. Sebagai nakhoda, dia harus cermat menyeleksi kelasinya, membaca arah angin dan menghitung kecukupan logistik. Tukang ngorok, doyan makan, pemalas, mestinya cepat dibuang.
Kita sedang berperang, Tuan, bukan melancong dengan kapal pesiar. Erick Thohir, Erick Thohir, S.O.S!!!

Kajitow Elkayeni

Media 'Meremahkan' Kekuatan Umat

Media 'Meremahkan' Kekuatan Umat

Kekuatan media yang begitu gagah pada waktu belakangan nyaris tak terkalahkan. Pers tidak hanya menjadi pilar keempat, tetapi juga telah menjadi imperium tersendiri. Media telah membentuk semacam 'kekuasaan lain' yang bersikap tidak mau tahu, bahkan terhadap fenomena yang bersejarah sekalipun.

Sebagai pilar demokrasi, media seharusnya tampil secara objektif dalam menyampaikan berita, tentang peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Namun media telah menjadi 'agen' Untuk merekayasa atau menghilangkan suatu fakta sejarah. Ia tidak lagi menampilkan objektivitas, apalagi mencari kebenaran dari fenomena. Keadaan ini memperburuk ruang publik kita.

Ruang publik yang pengap dari pemberitaan yang tidak berimbang, telah menampilkan wajahnya secara vulgar dihadapan 250 juta rakyat indonesia. Dimana media telah menjadi bagian dari alat untuk menghilangkan sejarah atau dengan kata lain ini merupakan penggelapan sejarah yang tertangkap basah dan yang melakukan penggelapan itu media di Indonesia.

Bagaimana tidak, jutaan manusia yang hadir dalam reuni 212, sebuah peristiwa penting bersejarah yang terjadi tahun 2018, yang mewakili 85 % masyarakat muslim, bahkan mewakili golongan lain dan umat lain, tidak menjadi pemberitaan penting bagi pers Indonesia. Bukankah itu menggelapkan sejarah?

Menghilangkan fenomena sejarah adalah merobek bagian penting dari catatan sejarah, sehingga semua bagian lain tidak bisa dijelaskan, bahkan catatan sejarah itu menjadi tidak lengkap. Apalagi yang ingin dihilangkan adalah sejarah umat Islam, yang merupakan populasi muslim terbanyak di dunia, itu sangat absurd dan naif. Dengan kata lain 'media di Indonesia sedang meminum racun dan berharap orang lain yang mati'.

Media di Indonesia telah menjadi bukti konkrit tentang keburukan pers, karena ia menyampaikan berita dengan tidak mengindahkan suasan yang hidup di dalam masyarakat. Pemberitaan yang tidak mengindahkan suasana yang hidup dimasyarakat terbukti sangat berbahaya. Hal itu pernah terjadi di Los Angles, Amerika Serikat pada  tahun 1991. Ketika seorang kulit hitam dihajar oleh 4 orang polisi hingga semua tulangnya patah. Kejadian itu direkam secara amatiran oleh seseorang. Keempat polisi itu diseret kepengadilang. Pada tahun 1992 pengadilan memutuskan mereka tidak bersalah.Dengan ongkos penayangan yang mahal, tv kembali mengambil kesempatan untuk menayangkan putusan yang kontroversial itu. Apa kejadian? Los Angles diguncang kerusuhan rasial yang hebat, orang kulit hitam berbondong-bondong memenuhi jalan dengan amukan kemarahan. Dalam sekejap meluas ke San Fransisco, Atlanta, Las Vegas, Texas, Pholadelpia dan beberapa kota lain. Korban jiwa dalam kejadian ini 58 orang sementara yang terluka mencapai 1000 orang dengan kerugian materil mencapai 3 Milyar dollar As. Tayangan peristiwa kejahatan yang berimplikasi pada gejolak masyarakat.

Reuni 212 bukanlah peristiwa kejahatan seperti Los Angles itu, tapi ia kebalikannya, yaitu menjadi cerminan pencapaian keadaban yang tinggi dari ummat Islam. Nafas 212 merubah kerumunan menjadi satu kekuatan iman, nurani dan akhlak, yang tidak mungkin dimiliki oleh kerumunan massa apapun kecuali ummat Islam.

Tapi kenapa media tidak memberitakan? Kalau contoh kejadi di AS tersebut adalah memberitakan kejahatan hanya karena persaingan media, maka di Indonesia tahun 2018, terjadi  'penghilangan' terhadap sejarah, karena media telah menjadi 'alat' atau corong korporasi dan kekuasaan sehingga aksi umat Islam yang kurang diharapkan harus dihilangkan dari lembaran sejarah.

Tetapi media salah, media telah salah secara fatal. Ia tidak tahu bahwa ummat Islam adalah umat yang paling banyak, yang hadir dalam reuni 212 melebihi 7 juta dan yang tidak hadir ikut mendoakan umat yang hadir dalam reuni itu mencapai ratusan juta, dan yang menyebarkan kabar tentang reuni itu juga jutaan akun media sosial. Media keliru, mereka ingin menutup kebenaran untuk menenangkan kegundahan Istana, justru borok mereka terlihat jelas, dengan gerakan media sosial ummat Islam yang melebihi pengaruh media massa itu.

Media menganggap bahwa dengan tidak diberitakannya pertemuan akbar yang mengalahkan pertemuan yang pernah ada dalam sejarah dunia itu, maka pertemuan itu tidak memiliki arti. Mereka salah dan salahnya fatal, sebab kekuatan media sosial ummat mampu menyentuh ruang yang paling dalam dari kehidupan individu yang ada. Media sosial ummat mampu menyentuh dapur ibu-ibu, ruang tongkrongan bapak-bapak, sehingga media massa bukan lagi menjadi alternatif satu-satunya untuk menyebarkan informasi ke khalayak.

Dengan demikian pertemuan akbar 212 yang terjadi pada Hari Ahad 2 Desember 2018 itu, tetap menjadi pertemuan yang paling fenomenal dan monumental serta menjadi bahan pembicaraan bagi setiap orang. Meskipun media menghalau dengan berbagai cara, dengan mencari alternatif berita yang lain, tetapi pertemuan itu telah menjadi bagian penting dari sejarah bangsa Indonesia, dan akan menjadi ingatan kolektif bangsa Indonesia.

Umat memang tidak memiliki media, tetapi ummat memiliki kekuatan yang dibutuhkan media untuk menaikkan ratingnya. Media memiliki saluran, tapi salurannya tidak ditonton oleh umat. Jadi media akan jatuh bangkrut tanpa umat, tetapi umat akan tetap jaya tanpa media. Tinggal bagaimana umat tetap mempertahankan spirit 212 sebagai nafas perjuangan dan persatuan sebagai modal utamannya. Insaa Allah ummat Islam akan menjadi ummat yang akan menang. Bukankah janji Allah kepada hambanya yang beriman, untuk diberikan kekuasaan baik didunia dan diakhirat kelak.

Wallahua'lam bis shawab

Dr. Ahmad Yani, SH., MH.
Advokat & Caleg DPR RI PBB Dapil DKI Jakarta 1 Jakarta Timur.

Kamis, 06 Desember 2018

Sahabat...Tengoklah ini

Sahabat...Tengoklah ini

👉
Ketika itu Jusuf Kalla pernah bilang "Hancur negara ini kalau dipimpin Jokowi". Kemudian Jokowi merangkul JK jadi Wakilnya di Pilpres 2014, dalam rangka Memukul lembut dan tak berkutik. JK akhirnya hanya menjadi kerbau ompong dalam kandang Jokowi.
👉
Ketika Ali Mukhtar Ngabalin bilang "pak Jokowi Kurang Gizi, antek Asing dan lain-lain", Jokowi menampar mulut Ngabalin dg memberi jabatan, dan sekarang jadi herder Jokowi sebagai jubir istana. Ngabalin menggonggong "Jokowi sebagai wakil Tuhan".
Ibarat kata, "bila tulang ditaruh di mulut anjing, maka kebenaran hanya yang keluar dari mulut majikannya".
👉
Lalu kiai Makruf Amin berfatwa, "jangan taati dan ikuti pemimpin yang ingkar janji". Maka Jokowi dengan "santun" menjadikan  Makruf Amin sebagai Wakilnya dalam rangka membantai otoritasnya sebagai Ulama, ketua MUI dan Rais Aam PBNU.
Ini fakta nyata...

👉
Tetapi tak semua bisa ditaklukkan Jokowi. Ketika Jokowi menawari "dunia dan seisinya"
(uang 1T & posisi Jabatan) kepada Habib Rizieq Shihab (HRS) agar tidak melanjutkan aksi 212 dan tidak mempermasalahkan lagi kasus Ahok si penista agama, HRS dengan tegas menolaknya...

Akibatnya HRS difitnah dengan berbagai kasus Keji (Chat Mesum dll), diintimidasi dan ber-kali2 percobaan Pembunuhan (di tembak, peledakan mobil dg bensin).
Lalu HRS terpaksa untuk sementara Hijrah ke Arab Saudi.

👉
Buat orang-orang yang berakal sehat, berpendidikan dan tidak buta mata hatinya, silakan Anda memilih, "Dengan siapa dan kemanakah seharusnya kita mengikuti ...?"

👉
"Ditipu pemimpin, itu adalah penyesalan, tapi mempertahankan pemimpin penipu, itu adalah kebodohan".

👆👆👆
#share sebanyak-banyaknya...

Semoga teks singkat ini dapat dibaca oleh jutaan orang pengguna WA, BB, internet...

SAAT KEMATIAN ITU KIAN DEKAT

SAAT KEMATIAN ITU KIAN DEKAT

B. J. HABIBI

*KALAULAH SEMPAT ..?*Renungan utk kita semua !!!!
--------------------------------
(Ketika BJ Habibie berpidato diKairo, beliau berpesan "Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ilmu technology sehingga saya bisa membuat pesawat terbang, tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama itu lebih manfaat untuk umat Islam. Kalo saya disuruh memilih antara keduanya maka saya akan memilih ilmu Agama.")_

Sepi penghuni... Istri sudah meninggal... 

Tangan menggigil karena lemah... Penyakit menggerogoti sejak lama... duduk tak enak, berjalan pun tak nyaman... Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta seorang pembantu...

 Tiga anak, semuanya sukses... Berpendidikan tinggi sampai ke luar negeri... » Ada yang sekarang berkarir di luar negeri... » Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi... » dan ada pula yang jadi pengusaha ... Soal Ekonomi, saya angkat dua jempol  » semuanya kaya raya...

Namun.... Saat tua seperti ini dia 'Merasa Hampa', ada 'Pilu Mendesak' disudut hatinya......

Tidur tak nyaman... » dia berjalan memandangi foto-foto masa lalunya ketika masih perkasa & enegik yang penuh kenangan... »

🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Di rumahnya yang besar dia merasa kesepian, tiada suara anak, cucu, hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur...

Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya....

Dari sudut mata ada air yang menetes..

Rindu dikunjungi anak2nya...

Tapi semua anaknya sibuk dan tinggal jauh di kota atau negara lain...

 Ingin pergi ke tempat ibadah namun badan tak mampu berjalan....

 Sudah terlanjur melemah.... Begitu lama waktu ini bergerak, tatapannya hampa, jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak ... Sepanjang waktu ....  


• Laki-laki renta itu, barangkali adalah Saya....

• Atau barangkali adalah Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti......

• Hanya menunggu sesuatu yg tak pasti...

• Yang pasti hanyalah KEMATIAN.

» Rumah Besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya... 

» Anak Sukses tak mampu lagi menyejukkan rumah mewahnya yang ber AC...

» Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang... 

» Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa .?

Kira-kira jika malaikat 'Datang Menjemput', akan seperti apakah kematiannya nanti

» Siapa yang akan memandikan ? 
» Dimana akan dikuburkan ?? 

» Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang mengurus jenazah dan menguburkan?

» Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti? 

» Rumah akan di tinggal, asset juga akan di tinggal pula... 

• Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa untuk kita atau tidak ??? 

• Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan ???

• Apa lagi jika anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama???
Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja...

🍀 'Kalau lah Sempat' menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah, Rumah Yatim, Panti Asuhan atau ke tempat2 di Jalan Allah yang lainnya...

🍀 'Kalau lah Sempat' dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang...... 

🍀 'Kalau lah Sempat' memberikan sandal untuk disumbangkan ke tempat ibadah agar dipakai oleh orang yg memerlukan..... 

🍀 'Kalau lah Sempat' membelikan buah buat tetangga, kenalan, kerabat dan handai taulan...... 

🍀 Kalau lah kita tidak kikir kepada sesama, mungkin itu semua akan menjadi 'Amal Penolong' nya ......

🍀 Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi 'Orang yang Shaleh', dan 'Ilmu Agama' nya lebih diutamakan.... 

🍀 Ibadah dan sedekahnya di bimbing / diajarkan dan diperhatikan, maka mungkin senantiasa akan 'Terbangun Malam', 'Meneteskan Air Mata' medoakan orang tuanya.

🍀 Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama .... 

 "KALAULAH SEMPAT"

 Mengapa kalau sempat ?
Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita ?  Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri.  Kenapa kita tidak lebih serius 'Menyiapkan Bekal' untuk menghadap-NYA dan 'Mempertanggung Jawabkan' kepadaNya?

Jangan terbuai dengan 'Kehidupan Dunia' yang  bisa  melalaikan.......

🌸 Kita boleh saja giat berusaha di dunia....tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang dan kekal di akhir Hidup kita....

( yang menulis dan menyebarkan catatan ini semoga menjadi sodaqoh ilmu dan ladang amal Shaleh).

Teruslah menjadi Pejuang Dakwah dan menabur Kebajikan selama hayat masih dikandung badan meski hanya dgn sepotong Ayat Al-Quran atau Hadist...

Semoga Bermanfaat...!

ANDA BUDAK DUNIA ????????

ANDA BUDAK DUNIA ????????

Kalo orang ditanya apakah anda budak dunia ? kemungkinan besar jawabnya "Saya bukan budak dunia"

Tapi ketika disodorkan "37 Tanda Budak Dunia" dan kemudian ditanya lagi "Apakah Anda Budak Dunia ?" Kemungkinan sebagian besar orang baru tersedar kalo ternyata dirinya sudah menjadi budak dunia.

Ada yang punya sedikit tanda.... Alhamdulillah.
Ada yang punya banyak Naudzubillah

*-------------------------""-----------------------*

Sudah tahu kan 37 tanda budak dunia ?
Kalo belum tahu silahkan baca dengan pelan pelan & penuh penghayatan

1. Anda tidak bersiap-siap saat waktu shalat akan tiba.

2. Anda melalui hari ini tanpa sedikitpun membuka lembaran Al Qur'an lantaran Anda terlalu sibuk.

3. Anda selalu berpikir setiap waktu bagaimana caranya agar harta Anda semakin bertambah tapi tidak petnah berpikir bagaimana caranya agar kualitas & kuantitas ibadah bertambah

4. Bangun tidur yang di ingat urusan dunia.

5. Anda marah ketika ada orang yang memberikan nasihat bahwa perbuatan yang Anda lakukan adalah haram.

6. Anda terus menerus menunda untuk berbuat baik. "Aku akan mengerjakannya besok, nanti, dan seterusnya."

7. Tidak sempat shalat dhuha walau hanya 2 rakaat.

8. Anda sangat tertarik dengan kehidupan para selebriti.

9. Anda sangat kagum dengan gaya hidup orang-orang kaya.

10. Berat sekali melangkahkan kaki ke masjid.

11. Anda selalu bersaing dengan orang lain untuk meraih cita-cita duniawi.

12. Anda selalu merasa haus akan kekuasaan dan kedigdayaan dalam hidup, dan perasaan itu tidak dapat dibendung.

13. Anda merasa tertekan manakala Anda gagal meraih sesuatu.

14. Anda tidak merasa bersalah saat melakukan dosa-dosa kecil.

15. Anda tidak mampu untuk segera berhenti berbuat yang haram, dan selalu menunda bertaubat kepada Allah.

16. Anda tidak kuasa berbuat sesuatu yang diridhai Allah hanya karena perbuatan itu bisa mengecewakan orang lain.

17. Anda sangat perhatian terhadap harta benda yang sangat ingin Anda miliki.

18. Menunggu shalat sambil main Smartphone, baru selesai shalat langsung main smartphone.

19. Anda menjadikan aktivitas belajar agama sebagai aktivitas pengisi waktu luang saja, setelah sibuk berkarir.

20. Anda memiliki teman-teman yang kebanyakannya tidak bisa mengingatkan Anda kepada Allah.

21. Anda menilai orang lain berdasarkan status sosialnya di dunia.

22. Anda melalui hari ini tanpa sedikitpun terbersit memikirkan kematian.

23. Anda meluangkan banyak waktu sia-sia melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat.

24. Anda merasa sangat malas dan berat untuk mengerjakan suatu ibadah.

25. Anda tidak kuasa mengubah gaya hidup Anda yang suka berfoya-foya, walaupun Anda tahu bahwa Allah tidak menyukai gaya hidup seperti itu.

26. Anda berdoa agar bisa masuk surga namun tidak sepenuh hati seperti halnya saat Anda meminta kenikmatan dunia.

27. Anda diberi nasihat tentang bahaya memakan harta riba, akan tetapi Anda beralasan bahwa beginilah satu-satunya cara agar tetap bertahan di tengah kesulitan ekonomi.

28. Anda ingin menikmati hidup ini sepuasnya.

29. Anda merasa mendapatkan ketenangan hidup dari berbagai kemewahan yang Anda miliki, bukan merasa tenang dengan mengingat Allah.

30. Anda meyakini bahwa hari kiamat masih lama datangnya.

31. Anda melihat orang lain meraih sesuatu dan Anda selalu berpikir agar dapat meraihnya juga.

32. Anda ikut menguburkan orang lain yang meninggal, tapi Anda sama sekali tidak memetik pelajaran dari kematiannya.

33. Anda tidak pernah berpikir bahwa hari ini bisa jadi adalah hari terakhir Anda hidup di dunia.

34. Anda mengerjakan shalat dengan tergesa-gesa agar bisa segera melanjutkan pekerjaan.

35. Pagi & Sore dilewati tanpa dzikir padahal sudah tahu keutamaanya.

36. Dalam satu minggu tidak sekalipun sempat shalat tahajud padahal sudah tahu manfaatnya.

37. Dalam satu minggu ini Shalat subuhnya lebih sering kesiangan, bagi laki laki shalat subuhnya lebih sering di rumah.

Apakah Tanda2 diatas ada yg melekat pada diri anda ?

Semakin banyak tanda yang anda miliki berarti semakin dalam anda sudah terseret menjadi budak kehidupan dunia.

Persaudaraan 212 dari sudut pandang Non Muslim

Persaudaraan 212 dari sudut pandang Non Muslim

Awalnya aku hanya ingin tahu dan ingin melihat saja.
Tentang reuni 212 yg katanya di hadiri jutaan manusia.
Pukul 6'oo aku berangkat dari Depok menuju Monas.
Titik tempat berkumpulnya alumni 212.
Jam 7 kurang aku sdh sampai.
Aku terkejut dan takjub, Krn memasuki bunderan HI manusia sdh berjubel.
Mobilku pun berjalan merayap di antara jamaah yg rata2 berbaju dan berpeci putih.
Mereka begitu ramah mempersilahkan mobilku lewat.
Namun aku tak bisa meneruskan,Krn sdh tdk bisa masuk lebih jauh lagi dan jalan sudah di padati manusia.
Seorang jamaah dengan sopan bertanya padaku ", mau kemana Bu..!?",
", Mau cari parkir pak", jawabku tersenyum.
", Ibu mutar ke kanan terus lurus ÷ 100 m dr sini ada tempat parkir di halaman gedung itu, masih bisa parkir ", katanya santun sekali.
Setelah berjalan terseok akhirnya sampai jg aku di gedung yg di tunjukan bapak tadi.

Selesai memarkir aku dan keluargaku keluar dari halaman gedung.
Aku terkejut bahkan terperangah.
Krn jalan sdh penuh sesak dg lautan manusia.
Mrk kompak tanpa di komando membaca sholawat dan mengibarkan ratusan bendera tauhid berwarna warni.
Aku tahu bendera tauhid dr dunia sosmed.
Aku dan keluargaku pesimis, apakah mrk menerima kami untuk ikut nimbrung.
Ataukah sebaliknya mrk akan mengusir kami.
Dan aku pun berpikir bagaimana bila terjadi rusuh...!?.
Dalam situasi yg pesimistis dan kebimbangan.
Tiba_ tiba beberapa jamaah menghampiri kami, dan memberikan topi yg bertulisan tauhid.
Dan anggota keluarga ku pun di berikan beberapa slayer.
Kami di persilahkan ikut bergabung.
Rasa euporia menghinggapi keluarga.
Kami rela berdesakan dg orang lain yg tak saling mengenal tapi jiwanya ada rasa kebersamaan.
Akupun tak dapat menahan tangis haru begitu juga anggota keluarga ku.
Jutaan rasa yg menghinggapi kami membuat aku terisak.
Beberapa jamaah memberikan tisue kepadaku.
Aku mengusap air mataku, belum pernah perasaan ini berkecamuk sebegitu dahsyatnya.
Rasa takjub dan bangga belum pernah aku lihat manusia sebanyak ini begitu tertib...
Puji Tuhan...!!!
Ini sungguh luar biasa.
Apalagi saat mendengar lantunan sholawat yg begitu kompak.
Tak henti hentinya aku mengusap air mata yg menggenangi mataku.

Setelah berjalan sekian puluh meter.
Aku bertemu dg rekan2 yg ku tahu mrk adalah non muslim.
Rupanya mereka merasakan hal yg sama denganku.
Dan aku semakin lebih takjub, karena banyak yg non muslim pun berdatangan.
Ikut membaur dg para jutaan jamaah.
Mereka pun tak membedakan kami, kami dapat snak dan minuman seperti jamaah yg lain.
Mereka memandang kami sebagai saudara.
Yg lebih mengharu birukan seorang nenek tua memelukku sambil menangis memberikan sebungkus nasi uduk.
Tuhanku...
Rasanya lutut ini lemas tak berdaya.
Air mata ini semakin deras membanjiri ku.
Begitupun yg menyaksikan peristiwa ini.
Mereka seakan terbawa arus yg ku alami.

Aku yg tadinya sempat menilai negatif thinking tentang ini semua.
Jadi mendapatkan suatu nilai moral yg luar biasa.
Aku dan keluarga besarku yg biasa dengar Pasteur khotbah di gereja, atau denger Bhikkhu di vihara.
Tak pernah sampai seharu ini...

Puji Tuhan....!!!
Di sinilah, di 212 lah aku menyaksikan dengan mata kepala ku sendiri.
Bahwa merekalah orang orang yg mempunyai hati terpilih.
Yang mempunyai pesan moral yang tiada ternilai.
Untuk menyikapi rasa persaudaraan sesama anak bangsa.

#salamdamai
#semogaindonesiaadildanmakmur.

Siem Mei hwa.
( Susi Meliana waty )

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More