Selamat datang di situs CV. Mandiri Kreatif

CV. MANDIRI KREATIF adalah sebuah perusahaan yang didirikan di Kota Bandung pada tanggal 18 Februari 2010. Perusahaan ini bergerak dalam perdagangan barang dan jasa. CV. MANDIRI KREATIF telah banyak mendapatkan proyek-proyek pemerintah dan swasta. Komitmen kami adalah memberikan kualitas layanan terbaik, yang menjadi motivasi kami dalam mencapai prestasi untuk menjadi mitra di bidang pengadaan barang dan jasa yang berkualitas. Sejarah usaha kami selalu mengembangkan sumber daya manusia dan mencari inovasi baru dalam meningkatkan mutu kerja didukung peningkatan sarana produksi hingga pendukung usaha lainnya.

Minggu, 29 Desember 2013

Lima Fakta 'Kiamat' di Bumi Sudah di Depan Mata

Sepasang pemain ski terdampar di laut es Swedia
Sepasang pemain ski terdampar di laut es Swedia (yahoo7)
VIVAnews - Planet Bumi makin bertambah tua. Para ilmuwan mulai mengkhawatirkan kondisi Bumi yang rapuh dan tidak mampu lagi mendukung kehidupan, termasuk bagi umat manusia.

Para ilmuwan menyatakan, bentuk nyata dari kehancuran Bumi sudah dapat dilihat dari bencana perubahan iklim, serangan asteroid dari ruang angkasa, sampai munculnya berbagai penyakit pandemi, seperti penyakit menular yang menyebar melalui populasi manusia di kawasan yang luas, misalnya benua, atau bahkan di seluruh dunia.

Beberapa film juga sudah menceritakan tentang berakhirnya kehidupan di Bumi. Misalnya The Day After Tomorrow. Di film fiksi ilmiah itu menggambarkan kehancuran Bumi akibat dari pemanasan global.

Meskipun hanya sebuah fiksi, tapi banyak ilmuwan yang meramalkan pemanasan global menjadi salah satu penyebab kehancuran Bumi yang terbesar.

Berikut lima penyebab nyata kehancuran Bumi dilansir Live Science, Minggu, 29 Desember 2013.

1. Pemanasan global
Ketakutan utama dari kehancuran Bumi adalah kerena perubahan iklim. Perubahan iklim dapat menyebabkan cuaca ekstrem, meningkatnya kekeringan di beberapa daerah, penyebaran penyakit ke seluruh dunia, dan daerah dataran rendah di planet Bumi akan tenggelam akibat naiknya permukaan air laut akibat mencair es di Kutub.

Bahkan, banyak ilmuwan yang menyatakan, perubahan iklim bisa menciptakan ketidakstabilan politik, bencana kekeringan, rusaknya ekosistem. Sehingga pada akhirnya Bumi tidak nyaman dan layak untuk ditempati.

2. Serangan Asteroid
Tercatat, hantaman meteor terdahsyat ke permukaan Bumi pada 30 Juni 1908, ke wilayah Siberia, Rusia menjadi ledakan meteor terbesar yang pernah terjadi sepanjang peradaban manusia.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian yang populer disebut Peristiwa Tunguska itu telah membumihanguskan 2.000 kilometer persegi wilayah hutan Siberia.

Para ilmuwan di dunia juga sangat mengkhawatirkan ancaman hujan batuan ruang angkasa yang sewaktu-waktu bisa menghantam Bumi.

Para astronom hanya mengetahui sebagian kecil dari jumlah batuan ruang angkasa, padahal masih banyak asteroid-asteroid yang tersembunyi di sistem Tata Surya.

3. Ancaman Penyakit
Penyakit baru selalu muncul setiap tahun. Beberapa penyakit yang menimbulkan pandemi di seluruh dunia adalah wabah penyakit pernapasan akut (SARS), flu burung, dan baru-baru ini muncul virus korona yang dikenal dengan MERS di Arab Saudi.

Sekarang, manusia di suatu negara memiliki hubungan dengan menusia lain di negara lain. Sehingga itu yang menyebabkan pendemi penyakit-penyakit berbahaya bisa menyebar dengan cepat.

"Ancaman pandemi global sudah sangat nyata terjadi," kata Joseph Miller, dalam bukunya yang berjudul Biology.

4. Perang Nuklir
Saat ini, keberadaan teknologi nuklir, oleh sebagian masyarakat dipersepsikan sebagai senjata, bom, atau hal-hal lain yang negatif.

Nuklir memang menakutkan. Korea Utara pernah memamerkan kekuatan senjata nuklir. Belum lagi, negara-negara lain yang masih menyembunyikannya.

Jika senjata nuklir berada di tangan yang salah, bisa dibayangkan betapa besar dampaknya bagi kesenjangan makhluk di Bumi, tak terkecuali manusia.

5. Efek Bola Salju (Snowball)
Penyebab-penyebab kehancuran Bumi yang disebutkan di atas bisa saja terjadi. Tapi, beberapa peneliti sangat yakin, efek bola salju dari beberapa penyebab itu akan lebih mungkin terjadi.

Contohnya, pemanasan global akan mengakibatkan perubahan iklim pada suatu negara, sehingga ekosistem pada negara tersebut akan rusak. Seperti, tanaman yang tidak bisa menghasilkan makanan.

Bencana itu memang terlihat kecil, karena terjadi pada satu negara. Tapi, sebenarnya bencana kecil itu lama-kelamaan akan terus meluas ke seluruh dunia. Dan akan terus menggerogoti Bumi secara bertahap. (eh)

Sabtu, 28 Desember 2013

Bangun Pagi, Rahasia Sukses Para CEO Perusahaan Besar Ini




Sebagian besar orang sukses ternyata mengawali aktivitas keseharian mereka dengan bangun pagi. Mereka biasa bangun pagi agar bisa berinteraksi dengan orang di sekitarnya atau mendapatkan informasi dari peristiwa yang terjadi di seluruh dunia.
Seperti dikutip VIVAnews dari laman Business Insider, Jumat 27 Desember 2013, para chief executive officer (CEO) perusahaan kelas dunia menerapkan gaya hidup bangun lebih awal di pagi hari.
Para eksekutif ini selalu bangun lebih pagi dibandingkan kebanyakan orang. Padahal, mereka kerap kali tidur menjelang dini hari, karena menyelesaikan banyak hal. Beberapa di antara mereka selalu menyempatkan diri untuk bisa berolahraga dengan keluarga.
Sebuah penelitian juga menyimpulkan bahwa bangun di pagi hari cenderung membuat seseorang menjadi lebih bahagia dan proaktif. Berikut CEO dunia yang terbiasa bangun di pagi hari.
1. Jeff Immelt, CEO General Electric
Immelt bangun pada pukul 05.30 setiap hari dan mengawali aktivitasnya dengan latihan kardio (senam jantung sehat), membaca koran, dan menonton berita di CNBC. Dia mengklaim bisa bekerja 100 jam per pekan selama 24 tahun.
2. Ursula Burns, CEO Xerox
Kepada Yahoo Finance, Burns menuturkan selalu bangun pukul 05.15 untuk membaca email dan sarapan sebelum berangkat ke kantor.
Kadang-kadang Burns kerja hingga tengah malam. Untuk menjaga kebugaran tubuhnya, Burns sering berolahraga. Bersama pelatih fitness pribadi, dia berolahraga pada pukul 06.00 dua kali sepekan.
3. Sergio Marchionne, CEO Fiat dan Chrysler
Marchionne harus membagi waktunya antara Turin, Italia, dan Auburn Hills, serta Mich. Jika sedang di Amerika Serikat, Marchionne selalu bangun pada pukul 03.30 untuk memantau perkembangan pasar Eropa.
Steve Rattner, bawahannya, menilai Marchionne telah menjadi pecandu kerja. “Saat hari libur di Itali, dia pergi ke Amerika untuk bekerja. Begitu pun sebaliknya, saat hari libur di Amerika Serikat, dia pergi ke Itali untuk bekerja. Dia menggunakan Sabtu dan Minggu untuk tetap bekerja.” ujar Steve Rattner.
4. Bill Gross, CEO PIMCO
Gross harus memantau perkembangan pasar modal di seluruh dunia sepagi mungkin, karena perusahaannya menjalankan bisnis manajemen investasi terbesar di dunia. Gross terbiasa bangun pukul 04.30 untuk mengecek keadaan pasar modal, kemudian pergi ke kantor pukul 06.00.
5. Jack Dorsey, CEO Twitter dan Square
Dorsey terbiasa bangun pukul 05.30 untuk bermeditasi dan jogging sejauh 6 mil. Dengan bangum pagi, Dorsey bisa meluangkan waktu untuk mengawal Twitter dan Square masing-masing 8 jam per hari.
6. Richard Branson, CEO Virgin Group
Branson tinggal di pulau pribadinya dan selalu bangun pukul 05.45 setiap hari. Sorotan Matahari menjadi penanda waktu Branson untuk memulai aktivitas. Sebelum ke kantor, Branson selalu menyempatkan diri untuk berolahraga dan sarapan pagi.
7. Indra Nooyi, CEO PepsiCo
Nooyi percaya bangun pagi akan membawa keberuntungan. Dia selalu bangun pukul 04.00.
8. Dan Akerson, CEO General Motor
Akerson selalu bangun pukul 04.30 atau 05.00. Dengan bangun pagi dia bisa menyapa semua GM Asia. Meskipun kadang Akerson harus bekerja sepanjang malam dan tidak tidur. Dia mengaku bahagia dan senang dengan pekerjaan yang digelutinya saat ini.
9. David Cush, CEO Virgin Amerika
Cush memulai aktivitasnya pada pukul 04.15 untuk mengecek email, menelepon rekan bisnisnya, mendengarkan radio, kemudian berolahraga.
10. Tim Cook, CEO Apple
Cook terbiasa bangun pukul 04.30 untuk mengecek email perusahaan dan miliknya. Pada pukul 05.00, ia mulai berolahraga dan pergi ke kantor. Cook mengaku sangat bangga jika bisa menjadi orang pertama yang datang ke kantor dan orang terakhir yang pulang.
Bangun Pagi, Rahasia Sukses Para CEO Perusahaan Besar Ini

Ilmuwan Indonesia Temukan Struktur Baru Otak

Sabtu, 28 Desember 2013 , 08:15:00 WIB

Laporan: Yayan Sopyani Al Hadi
[ysa]
RMOL. Otak tengah, atau hippocampus, merupakan sentral otak yang sangat penting dalam fungsi pembelajaran, proses mengingat, peran emosi, dan keseimbangan. Sementara gangguan pada hippocampus akan menimbulkan berbagai penyakit seperti parkinson, epilepsy dan alzheimer.

Namun, sampai dewasa ini masih sangat banyak yang belum diketahui, yang berhubungan dengan fungsi, struktur networking, fungsi dinamik dari hippocampus.

Hingga akhirnya, seorang ilmuwan Indonesia, yang merupakan staf akademik di University of California, Irvine, USA, DR. Taruna Ikrar, menemukan adanya struktur baru pada otak tengah tersebut. Bila selama ini ini struktur otak tengah hanya disebutkan terdiri dari Denty Gyrus, CA3 (bagian yang memicu loncatan energy dari DG ke badan otak tengah), kemudian CA1 (Yaitu bagian distal yang memacu electron dan neurotransmitter dari otak tengah kea rah Korteks), selanjutnya struktur dan fungsi yang terletak diantara otak tengah proximal (CA3) dan distal/caudal (CA1) yang belum jelas selama ini akhirnya dapat buktikan.

"Bahkan kami bisa menjelaskan strukturnya secara detail beserta fungsi dinamiknya," kata DR. Taruna, yang juga dokter spesialis di School of Medicine, University of California, dalam keterangan beberapa saat lalu (Sabtu, 28/12).

Taruna menjelaskan bahwa rangkaian proses belajar dan mengingat sangat ditentukan oleh bagian otak tengah. Dan bahkan bahkan menjadi dasar proses belajar sebagai bagaian dari kerja intelektual otak manusia. Demikian pula bagian otak tengah ini diyakini sebagai penentu kondisi patologis yang berupa, epilepsi lobus temporal.

Secara struktur, hippocampus memiliki jalur yang sangat khas, yang disebut trisynaptic organisasi, yang dapat digambarkan berupa jalur arus informasi sebagai berikut: dentate gyrus (DG), kemudian ke bagian apical (CA3) dan kemudian ke bagian distal (CA1), jalur ini diyakini oleh para ilmuwan neurosains memberikan kontribusi pada fungsi normal maupun patologi.

Para ilmuwan neurosains berupaya keras, untuk dapat memahami proses perkembangan yang menentukan terbentuknya struktur organisasi sirkuit otak tengah (hippocampal) pada fase dewasa. Kenyataannya, terjadi proses aktivitas spontan dalam perkembangan sirkuit saraf, termasuk pada hippocampus, dan memberikan kontribusi untuk pembentukan struktur sirkuit tersebut.

"Dalam pertumbuhan dan perkembangan otak tengah (hippocampus), pada awal perkembangannya, jenis system saraf pernghambat, yang ditandai dengan neurotransmitter sarf berupa GABA (Gamma Amino Butirit Acid) mengalami deplarasi listrik dan peningkatan rangsangan, sehingga berakibat peningkatan spontannitas otak pada jaringan otak tengah tersebut," demikian Taruna. [ysa]
 

Hatta Rajasa Diancam Dubes dan Perdana Menteri dari Luar Negeri

Sabtu, 28 Desember 2013 , 17:04:00 WIB

Laporan: Ihsan Dalimunthe
 
 
RMOL. Indoneisa adalah tujuan investasi nomor satu di ASEAN. Artinya peluang Indonesia untuk menjadi negara production base sangat besar. Pasalnya Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam terbesar kelima di dunia.

"Itu adalah hasil survei terakhir dari survei ekonomi ternama di Jepang. Data survei tersebut melibatkan seluruh negara-negara ekonomi maju di dunia," ujar Menko Perekonomian, Hatta Rajasa saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Jember, Jawa Timur, Sabtu (28/12).

Makanya kata Hatta, melalui Master Plan Percepatan Pembangunan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI), dilakukan penekanan terhadap inovasi ilmu pengtahuan dan teknologi dan sumber daya manusia yang unggul. Dengan itu, Indonesia akan dapat menjadi production base dan menghentikan pengiriman bahan mentah yang jelas sangat merugikan.

"Makanya saya tegaskan, stop pengiriman bahan mentah. Nggak akan maju-maju kita. Insinyur kita tidak bekerja kalau minerba kita mentah-mentah dikirim keluar semua. Harus ada industrialisasi," tegas Hatta.

Hatta pun menegaskan, akibat kebijakan stop ekspor barang mentah mulai Januari 2014, dirinya kerap didatangi dan diancam oleh duta besar dan perdana menteri negara-negara luar. Namun Hatta tidak gentar.

"Saya membalas kritikan dan ancaman itu simpel saja. Saya katakan negara saya mau maju. Makanya kita terus lakukan transformasi inovasi lewat sumber daya manusia yang unggul," demikian Ketua Umum DPP PAN ini. [zul]
 

Jumat, 27 Desember 2013

Jokowi-Ahok, Duet Maut Tak Saling Sikut

Added by PT. Platmerah Group Plat Merah on December 27, 2013.
Saved under Berita Unik

Jokowi_Ahok 
Jokowi-Ahok tak hanya menonjol sebagai model kepemimpinan pemerintahan daerah yang penuh terobosan. Keduanya juga menyajikan sinergi unik. Potensi konflik pasangan ini diredam dengan memaduserasikan keunggulan masing-masing. Eksperimen berharga di tengah banyak pasangan yang awalnya bersanding, akhirnya bertanding.
Ada kesamaan antara duet Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Prov. DKI Jakarta 2012, dengan pasangan SBY-JK di Pilpres 2004. Jokowi, sapaan akrab Gubernur DKI Jakarta itu dan SBY, panggilan pesiden, sama-sama rising star politik pada masanya. Elektabilitas Jokowi pasca-pemilihan gubernur Jakarta 2012 terus menanjak, begitu pula tingkat keterpilihan SBY selepas Pilpres 2004.
Dua primadona elektoral pada eranya itu juga sama-sama didampingi pasangan tak biasa: out of the box. Sosok JK sebagai wapres berbeda daripada umumnya wapres, yang sekedar konco wingking. JK tampil aktraktif, menjadi problem solver, dan banyak terobosan. Pun performa Ahok, tidak seperti kesan umum wagub yang sekedar pelengkap protokoler.
Kepada daerah populer itu biasa. Tapi tak banyak wakil kepada daerah sekondang Ahok. Mantan Bupati Belitun Timur ini banyak melontorkan gagasan kejutan, pekerja produktif, dan punya kemampuan bicara yang argumentatif. Terlihat saling mengisi dengan Jokowi yang kalem dan biacara secukupnya. Ahok tidak cuma menumpang popularitas Jokowi, melainkan juga memberi warna lebih.
Salah satu wajud pengakuan publik, tahun ini Ahok dianugerahi “Bung Hatta Anti-Corruption Award” – penghargaan yang pernah diterima Jokowi tahun 2010, saat masih menjadi Wali Kota Surakarta, Jawa Tengah. Banyak yang memandang kiprah Ahok sebagai wagub mirip JK sebagai wapres. Pasangan SBY-JK dinilai tepat dan saling mengisi. SBY sosok pemikir visioner, JK tipe pekerja smart yang berorientasi kedepan.
Tapi ditengah jalan, ketegangan SBY-JK mulai berakumulasi. Puncaknya, duet ini pecah kongsi menjelang Pemilu 2009, dan akhirnya SBY bertarung melawan JK. Duet pemimpin publik yang semula bersanding, lalu bersaing, dan puncaknya bertanding, juga menjalar ke banyak kepala daerah.
Pasangan Fauzi Bowo-Prijanto, pendahulu Jokowi-Ahok di DKI Jakarta, sehabis bersanding bergeser menjadi bersaing. Pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf di Jawa Barat, pada pilkada berikutnya bertanding. Banyak pula contoh lain di tingkat kabupaten/kota. Hanya sedikit pasangan kepala daerah yang langgeng dan berduet kembali pada periode kedua, seperti Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu`man di Sulewesi Selatan.
Ada lagi Soekarwo-Saifullah Yusuf di Jawa Timur, meski di tengah jalan pasangan ini nyaris pecah kongsi. Konflik kepentingan kepada dan wakil kepada daerah memang potensial. Salah satu faktor penggodanya, ada aturan main, bila kepala daerah utuh, sang wakil bakal menggantikan.
Kekompakan kepada daerah termasuk faktor krusial dalam sukses pemerintah daerah (pemda). Itulah sebabnya, dalam RUU Pilkada dan revisi UU Pemda yang sekarang sedang dibahas, penerintah menawarkan konsep wakil kepada daerah diangkat dari pegawai negeri sipil, bukan dipilih lewat pilkada. Itu sebagai respons atas maraknya rivalitas pimpinan daerah. Bahkan ada opsi, wakil gubernur ditiadakan pada provinsi yang penduduknya dibawah 5 juta orang.
Duet Jokowi-Ahok bukan hanya menarik lantaran mempertontonkan banyak langkah solutif penuntasan sejumlah masalah publik: layanan kesehatan dan pendidikan gratis, penyelesaikan damai hunian ilegal Waduk Pluit yang menahun, sampai penyelesaian cemerlang pedagang liar di jalanan Pasar Tanah Abang, Jatinegara dan Pasar Minggu, yang sudah lama jadi biang kemacetan.
Pasangan ini juga menyajikan model sinergi yang khas antara gubernur dan wakil gubernur. Sinergi kuat itulah yang menompang sukses pelayan publik. Pemerintahan mereka memang baru setahun dan tidak bisa dijamin akan terus kompak. Tapi sejauh ini, gaya duet ini relatif efektif meredam potensi konflik antar-mereka. Ini bukan pasangan tanpa potensi politik.
Keduanya bekas pemimpin fenomeal di daerah masing-masing, Jokowi bintang dari Surakarta, Ahok mutiara dari Belitung. Latar parti keduanya juga berbeda. Jokowi dari PDIP, Ahok eks anggota Fraksi Golkar DPR RI yang jelang pilkada Jakarta, direkrut masuk Gerindra.
Mereka hasil perjodohan kilat antara Gerindra dan PDIP. Ketika saat ini relasi antara pimpinan Gerindra Prabowo Subianto dan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri sedang merenggang, namun kombinasi Jokowi-Ahok seperti tak tertanggung. Bahkan Wasekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto menggambarkan bahwa kader PDIP Sumut itu menginginkan duet Jokowi-Ahok diusung dalam bursa Pilpres 2014.
Ahok membuka salah satu rahasia suksesnya menjalin solidaritas dengan Jokowi, Ahok menolak disebut mirip Jusuf Kalla,”Saya bukan mazhab JK,” kata Ahok.”Kalau saya mazhab JK, Pak Jokowi mungkin sudah ribut sama saya atau diam-diam ngga mau saya lagi.” Apa bedanya dengan JK? “Kalau saya, ngomong dulu baru baru mikir. Kalau JK, kerjakan duku baru mikir,” kata sosok yang gayanya memimpin rapat mudah dilihat di Youtube ini.
“Kalau saya ngomong, terus pak gubernur tidak berkenan, saya dipanggil. Kan saya belum melakukan,” katanya. “Kalau kamu kerja, lalu baru mikir, ya marah dong si Bos. Kamu kok kerja dulu ngga ada diskusi. Kalau saya sounding dulu dan pak Gubernur ngga panggil, berarti setuju, baru saya kerjakan.”
Ahok mengaku tahu diri bahwa dia bawahan gubernur.”Itu bukan berarti menghina JK,” katanya. “Kalau SBY puas dengan JK, dia akan pilih JK yang sudah lima tahun bekerja, Tapi akhirnya SBY kan milih Budiono, itu karena JK mazhabnya seperti itu.”
Jokowi lebih banyak di lapangan. Blusukan. Ahok lebih sering memimpin rapat di kantor. Jokowi sesekali saja memimpin rapat. Pembagian ini kebetulan cocok dengan karakter mereka. “Saya ngga begitu suka keliling-keliling kayak Pak Jokowi. Pusing saya kalau mesti keliling-keliling begitu,” katanya.”Saya ngga pernah keluar (dari kantor). Kalau saya mau kondisi di lapangan, saya suruh orang untuk foto.”
Sedangkan Jokowi tidak betah rapat lama-lama.”Masalah rapat-rapat itu, saya ngga kuat, jadi wagub saja,” kata Jokowi.”Wagub ngga terlalu senang turun lapangan, jadi ya saya saja yang turun,” Mungkinkah suatu saat dibalik, Jokowi banyak memimpin rapat, dan Ahok ke lapangan? “Ya ngga, kan kesenengannya sudah masing-masing, Masa tukar-tukaran kesenengan,” jawab Jokowi, tersenyum.
Resep lain, masing-masing saling memahami kelemahan dan kelebihan. Urusan seni budaya, Ahok mengaku tak menguasai.”Kayak festival-festival, saya ngga ngerti. Beliau lebih jago. Kalau beliau lebih jago, ngapain direbut. Kalau kamu ngga bisa kerjaannya ya jangan. Kalau kita bisa, yang kita ambil kita kerjakan sebaik-baiknya,” kata Ahok panjang lebar. Tapi pada kasus Kartu Jakarta Sehat (KJS) — yang pernah diboikot sejumlah rumah sakit– Ahok lebih menguasai dan Jokowi dengan legowo menyerahkannya pada Ahok.
“Kalau KJS, memang beliau kasih saya. Karena saya lebih menguasai. Saya dari tahun 2006 sudah kerjakan di Belitung. Beliau juga mengerjakan di Solo dengan Askes,” katanya.”Jadi prinsipnya, kalau Anda memang lebih menguasai, ya Anda yang mengerjakan. Kalau tujuannya pengen menonjol, pengen keliahatan namanya, pasti nanti berantem.”
Jokowi memperkuat,”Yang paling penting, kerja sama seperti harus didahului kesamaan. Tidak ada kepentingan.” Bubarnya duet kepemimpinan, kata Jokowi, biasanya cuma karena dua hal.”Kepentingan ekonomi dan kepentingan politik. Rebutan politik dan rebutan ekonomi,” papar Jokowi.”Yang juga sering ramai itu rebutan massa. Kalau kita ngga tahu juga, massa kita yang mana, kita merasa tidak ada yang saling ambil lahan politik atau ekonomi, Ya jadi, begini-begini saja.”
Mantan Wagub DKI Jakarta, Prijanto yang saat pilkada lalu mendukung Jokowi-Ahok, tidak mau gegabah mengambil konsklusi bahwa pasangan ini kompak.”Hati-hati membuat kesimpulan kompak atau tidak kompak, saya tidak berani simpulkan,” kata sosok yang pernah berseteru dengan Fauzi Bowo ini. Bisa saja pencitraan. “Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu,” kata Prijanto.
Prijanto menyebut, faktor yang rentan meretakkan Jokowi-Ahok adalah latar keduanya sebagai politisi plus pengusaha,”Apalagi dua-duanya masih muda dan belum selesai dengan diri masing-masing,” katanya. Pensiunan jenderal bintang dua ini lebih banyak memperingatkan Jokowi-Ahok.”Mereka harus hati-hati pada pihak luar, biasanya pengusaha kakap atau politisi senior mereka,”katanya.”Kalau sampai benar-benar terpengaruh, bisa pecah duet ini.”
Perbedaan karakter Jokowi yang lebut dan Ahok yang meledak-ledak, Prijanto khawatir ini juga menjadi bumerang. Perihal pembangian kerja, Jokowi banyak blusukan, Ahok banyak memimpin rapat, kata Prijanto, sudah tepat. Salah besar, katanya jika wagub lebih banyak kluyuran.”Apalagi menjelang pilkada, bisa dianggap mau kampanye,” katanya.”Wagub itu ibarat ibu rumah tangga, mengkoordinasikan staf. Jadi sudah pas.”
Prijanto tidak terlalu memuji beberapa agenda Jokowi-Ahok yang selama ini diapresiasi luas. Penertiban Tanah Abang, kata Prijanto, memang sudah tugas.”Dulu saya dan pak Fauzi Bowo juga menertibkan Pasar Senen dan Jatinegara,” katanya.”Itu sudah tugas dan biasa saja,” Ia menambahkan.”Waktu itu prioritasnya belum ke Pluit dan Tanah Abang.”
“Pengerukan Waduk Pluit bukan pekerjaan yang luar biasa karena memang tugas pemerintah daerah,” ujarnya. “Yang luar biasa itu kalau bisa berantas korupsi. Kalau cuma ngeruk kali, selokan, penertiban kan memang pekerjaannya.” Prijanto mengaku sektor kesehatan dengan KJS dan pendidikan dengan KJP lebih baik dari sistem sebelumnya.
Andrinof Chaniago, analis kebijakan publik dari UI, melihat meski ada perbedaan karakter komunikasi Jokowi dengan Ahok, karakter pribadi dua pasangan ini hampir sama.”Mereka sama-sama rasional, fair dan tujuannya mengejar hasil.” kata Andrinof. Berbeda dari kepemimpinan SBY yang tidak mengejar hasil, tapi menyenangkan semua orang.”Padahal yang disenangkan itu kepentingan pribadinya.”
Buat Jokowi-Ahok, kepentingan publik jadi target.”Walaupun mendadak, bahkan sering muncul terbosan belum matang sudah dilontarkan,” katanya. Berbeda dari pasangan pemimpin Banten Atut-Rano Karno, yang dinilai tidak memiliki visi dan karakter kepemimpinan kuat.
Soal visi, kata Andrinof, duet Jokowi-Ahok sebenarnya biasa, Tidak visioner seperti SBY,”Tetapi kepemipinan SBY tidak progresif,” katanya. Apalagi setelah SBY berpasangan dengan Boediono. Sedangkan Jokowi-Ahok sama-sama progresif dan ingin berbuat yang kongkret.
Berbeda dari Prijanto, Andrinof belum melihat ada faktor krusial yang berpotensi meretakkan pasangan ini, termasuk isu pencapresan Jokowi. Kuncinya, karena pasangan ini dapat memposisikan diri secara tepat. Ahok menempatkan diri sebagai wagub.”Ahok tidak menonjolkan posisi sebagai orang yang bersama-sama satu paket,” Andrinof menjelaskan.
Pekerjaan Ahok di kantor juga berat karena butuh pengorbanan psikologis. Ia harus rutin di kantor yang mungkin membosankan.”Kalau dua-duanya di kapangan kan kacau nanti.” Jokowi memang kadang tak setuju gaya Ahok dan menegur.”Tetapi Jokowi bukan tipe orang yang menyalahkan sepenuhnya. Dia memahami perbedaan karakter orang,” katanya. Sisi lain, Ahok orang yang fair dan mudah menerima masukan.”Jika ditegur, apalagi logis, dia menerima”.
Dalam telaah Andrinof, pembagian kerja saling mendukung antara pasangan pemimpin sekarang ini belum banyak. SBY saat ini, kata Andrinof, tidak memperoleh pasangan yang pas. Akan lebih baik jika yang satu pemikir dan perencana, pasangannya harus problem solver, penggerak dan eksekutor. Sebenarnya, kata Andrinof, JK pasangan cukup ideal buat SBY, karena melengkapi karakter SBY yang pemikir-perencana.
Tapi masalahnya, kata Andrinof,”Karakter pribadi mereka tidak cocok.” SBY terlihat tidak nyaman bersanding dengan JK karena SBY tipikal orang yang tidak ingin disamai, apalagi dilampaui. Situasi semacam itu, sejauh ini, tidak terjadi pada pasangan Jokowi-Ahok. [MG/Ahok.org]

Peningkatan Jalan Melong Kidul ( Lanjutan )

HOTMIX








Senin, 09 Desember 2013

Jutaan rakyat miskin menangis, sulit penuhi kebutuhan dasar Rakyat tanggung utang Rp2,737 Triliun, kekayaan Migas dikuras asing

Jutaan rakyat miskin menangis, sulit penuhi kebutuhan dasar

Rakyat tanggung utang Rp2,737 Triliun, kekayaan Migas dikuras asing

Oleh: Gerakan Nasionalisasi Migas (GNM)
PERTAMINA yang dilahirkan 10 Desember 1957, 56 tahun silam, menggantikan nama PT Pertambangan Minyak Nasional (Permina) setelah selesai membenahi rerongsokan eksplorasi minyak dan membereskan kilangnya yang berserakan pasca ditinggalkan Tambang Minyak Sumatera Utara (TMSU) di Pangkalan Brandan.
Hanya dengan modal semangat dari mainstreamnya perjuangan Trikora, atau tanpa modal negara. Dalam perkembangannya, faktanya, Pertamina mampu membangun puluhan ribu Puskesmas dengan dokter bantunya; beribu-ribu SD Inpres dengan guru honorernya; ribuan Pasar Inpres dengan kucuran kredit pedagang lemahnya; dan membiayai program Bimas sampai tercapainya swasembada pangan.
Ketika kita lengah mengawal Pertamina, amanat Pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945 yang menjadi marwah Pertamina, yang menurunkan UU No. 44 Prp. Tahun 1960 tentang Pertambangan dan UU No. 8 Tahun 1971 tentang Pertamina.
Dengan mudah dieksekusi oleh manifest Letter of Intent IMF 20 Januari 2000 dengan dukungan USAID, berhasil mempengaruhi Pemerintah dan DPR untuk menerbitkan UU No. 22 Tahun 2001 tentang Migas. Jadilah harga bahan bakar minyak (BBM) yang merupakan cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak yang dikuasai oleh negara, dipaksa mengikuti mekanisme pasar yang mengandalkan demokrasi ekonomi berdasarkan Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 hasil amandemen tahun 2002.
Kedua, undang-undang langsung dieksekusi dan Pertamina diamputasi ke dalam pola unbundling, tidak terintegrasi, dan berlawanan dengan trend merger seperti Exxon Mobil, TotalFina, ConocoPhillip, dan lainnya. Jadilah Pertamina terbonsaikan.
Ketika kita lalai mempertahankan Pertamina, UU Migas No. 22 Tahun 2001 sebagai hasil kemenangan IMF terus mempengaruhi dan menekan Pemerintah. Kendati Dirut Pertamina Widya Purnama dengan lantang mampu menjadi operator Blok Cepu, nasibnya tak lama disingkirkan. Blok Cepu pun dikuasai oleh ExxonMobil bertepatan ada kunjungan Menlu AS Condolesa Rise ke Jakarta. Jadilah kekayaan sumber daya alam Migas kita dihisap oleh asing.
Peran Pertamina yang semula membawahi para kontraktor Kontrak Bagi Hasil (PSC) dan sudah diambil alih BP Migas, harus ikut tender dan akan kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan migas asing yang menjadi kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKS) dengan BP Migas.
Ketika kita abai memperkuat Pertamina, sejalan dengan putusan MK membubarkan BP Migas pada November 2012. Lalu, Pemerintah menggantikan baju BP Migas menjadi SKK Migas, DPR pun meresponsnya dengan merevisi UU Migas No. 22 Tahun 2001. Komisi VII yang membidangi energi, nampaknya terpendam rasa ketidaksukaannya terhadap Pertamina.
Mereka akan membuat pasal dalam RUU Migas yang memilih membentuk badan atau lembaga baru menggantikan SKK Migas yang berstatus BHMN atau dari SKK Migas melahirkan badan atau lembaga baru yang akan mengelola migas, dengan mengesampingkan peran Pertamina sebagai BUMN Migas atau National Oil Company. Namun Komisi VI yang membidangi BUMN bicara lain, dukungan politiknya membela Pertamina untuk mengelola Blok Mahakam pasca 2017.
Dari pengalaman di banyak negara, terutama di belahan Amerika Latin seperti Bolivia, Ekuador, Venezuela dan Argentina. Khususnya Venezuela di bawah Komandante Hugo Chavez yang saat berkunjung ke Presiden Gus Dur, menyatakan nasionalisasi Migas di negaranya sebenarnya mengikuti sejarah nasionalisasi minyak di Indonesia saat Bung Karno mengeluarkan UU No. 44 Tahun 1960.
Perusahaan minyak nasionalnya yang diperkuat dan hasil-hasilnya seperti Raja Faisal saat menasionalisasi minyak Aramco Saudi tahun 1974, bangsa Arab Saudi yang semula miskin menjadi sejahtera.
Dalam rangka memperingati HUT Pertamina Ke-56 inilah, Gerakan Nasionalisasi Migas (GNM) bermaksud menggelar ‘Silaturahmi Anak Bangsa’ dengan mengangkat tema: “Kawal, Pertahankan dan Perkuat Pertamina Harga Mati Dengan Semangat Nasionalisasi Migas” bukanlah utopia, dan justru kita upayakan untuk mewujudkannya.
Pemicu dari upaya GNM mengangkat tema tersebut, ketika utang Pemerintah hingga September 2013 mencapai Rp. 2.273,76 triliun dan rendahnya komitmen Pemerintah mengurangi utang. Seandainya rakyat Indonesia dilibatkan langsung untuk melunasi utang Pemerintah sebesar Rp. 2.217,95 triliun, hitungan per Agustus 2013. Maka jika dibagi dengan populasi penduduk 240 juta jiwa, setiap orang harus menyisihkan dana sebesar Rp. 9,1 juta.
Tapi, jumlah penduduk miskin Indonesia pada bulan Maret 2013 mencapai 28,07 juta dan dengan pengeluaran per orang perbulan per kepala dibawah Rp233.740,- atau di bawah Rp7.780,- per orang per hari. Sudah jelas rakyat tidak akan mampu melunasi utang Pemerintah, meski dengan kerja keras dan ikat pinggang sekali pun. Tragis, buruh hidup di Jakarta –menanggung isteri dan dua anak– untuk memenuhi kebutuhan dasar saja tiap bulan selalu “gali lubang tutup lubang”.
Bukti rincian kebutuhan keluarga miskin (dua anak sekolah SD); Anggaran makan (nanak nasi+menu): Per hari Rp 20 ribux30= Rp 600 ribu; biaya jajan dua anak (di sekolah+rumah) Rp 10ribux30=Rp 300 ribu: biaya sekolah 2 anak (non SPP)= Rp50 ribu; Biaya perlengkapan mandi keluarga sebulan= Rp100 ribu; Biaya sewa rumah petak sebulan Rp500 ribu; bayar listrik= Rp50ribu ; biaya BBM satu motor Rp6.5 ribux30=Rp195 ribu; biaya kredit motor Rp500ribu; uang saku/makan saat bekerja (kepala keluarga) Rp10 ribux10= Rp300 ribu. Total kebutuhan dasar rumah tangga buruh (dua anak) Rp2.695,-
Tragis. Buruh tinggal di Jakarta dan yang beruntung dapat gaji UMP (Upah Minimum Provinsi) Rp2,4 juta saja tidak cukup, bahkan masih harus “gali lubang tutup lubang”. Lantas, bagaimana yang tinggal di luar Jakarta dan UMP-nya cuma Rp2 juta atau di bawahnya. Bagaimana pula untuk mereka yang anaknya SMP atau SMA, bahkan mahasiswa? Belum lagi kalau buruh biaya ada musibah. Lebih menderita lagi jika anak lebih dari dua.
Menyedihkan. Kalau saja APBN tidak terserap bayar utang negara, tentu bisa dipakai subsidi sembilan bahan pokok, misalnya. Sehingga beras tidak sampai per kilo Rp9ribu-Rp10ribu, gula Rp20 ribu, bahkan BBM bersubsidi Rp6.500.
Ketua KPK Abraham Samad dalam Dialog Kebangsaan di Senayan pada 21 Oktober 2013, menegaskan kalau tidak ada korupsi, pendapatan per kapita masyarakat Indonesia bisa mencapai puluhan juta per bulan, atau ratusan juta per tahun. Dari sektor Migas saja, hampir 50 persen tambang di Indonesia tidak membayar royalti ke Pemerintah.
Angka itu jika dirupiahkan menjadi Rp20.000 triliun. Kalau ini saja dibagi dengan 241 juta jiwa, maka akan ditemukan pendapatan terendah Rp30 juta per bulan. Jika demikian, rakyat tidak usah dilibatkan untuk melunasi utang. Sebab dengan pendapatan terendah saja, Indonesia akan terbebas dari utang, terbangun infrastruktur dan rakyat menjadi adil, makmur dan sejahtera.
Sebab itu, Ketua KPK mendorong Pemerintah untuk menasionalisasi Migas dan tambang. @

 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More