Kamis, 24 Agustus 2017

HUBUNGAN FILSAFAT ILMU DALAM KERANGKA PENALARAN ILMIAH DAN IMPLEMENTASINYA PADA BIDANG RISET



HUBUNGAN FILSAFAT ILMU DALAM KERANGKA PENALARAN ILMIAH DAN IMPLEMENTASINYA
PADA BIDANG RISET




Diajukan Sebagai Salah SatuTugas Mandiri
pada Mata Kuliah Filsafat Ilmu

Dosen : Prof. (em) Dr. H. E. Saefullah Wiradipradja,SH.LLM.



Disusun Oleh :
Nama : Ade Surahman
NPM :  L23.016.0021











PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU PEMERINTAHAN
UNIVERSITAS LANGLANGBUANA
BANDUNG







DAFTAR ISI

                                                                                                                           Halaman
KATA PENGANTAR ...........................................................................................               i
DAFTAR ISI ...........................................................................................................   ii
BAB I             PENDAHULUAN...........................................................................    1
A.  Latar Belakang ............................................................................    1
B.  Rumusan Masalah .......................................................................    4
C. Tujuan  Penelitian..........................................................................    4
BAB II   ........ TINJAUAN PUSTAKA.................................................................   5
A.    Hakekat Filsafat Ilmu.............................................................         5
B.     Metode Ilmiah …….....................................................................   6
BAB III  ....... PEMBAHASAN..............................................................................  6
A.      Kontribusi Filsafat Ilmu terhadap Ilmu Pemerintahan..................                16
B.     Hubungan Filsafat Ilmu dengan Ilmu Pemerintahan…...............  32
BAB IV....... KESIMPULAN................................................................... 38

PUSTAKA ACUAN................................................................................................. 40
 





 


KATA PENGANTAR


Bismillaahirrohmaanirrohiim,
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang  Hubungan Filsafat Ilmu Dalam Kerangka Penalaran Ilmiah Dan Implementasinya Pada Bidang Riset”
Penyusunan makalah ini merupakan salah satu tugas pada mata kuliah Filsafat Ilmu pada program Studi Magister Ilmu Pemerintahan Universitas Langlangbuana Bandung.
            Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. (em) Dr. H. E. Saefullah Wiradipradja,SH.LLM. selaku dosen mata kuliah Filsafat Ilmu yang telah membimbing sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
Terlepas dari semua itu, Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
Bandung, Maret 2017

Ade Surahman


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya karena manusia mempunyai akal budi dan kemauan yang kuat. Dengan akal budi dan kemauan yang kuat, manusia dapat menjadi makhluk yang lebih dari makhluk lainnya. Manusia mempunyai ciri khas, ia selalu ingin tahu, dan setelah memperoleh pengetahuan tentang sesuatu, maka segera kepuasannya disusul lagi dengan kecendrungan untuk lebih ingin tahu lagi.[1]
Sebagai makhluk berfikir, manusia dibekali hasrat selalu ingin tahu, tentang benda-benda yang ada dan peristiwa-peristiwa yang terjadi disekelilingnya, termasuk ingin tahu tentang dirinya. Adanya dorongan rasa ingin tahun dan usaha untuk memahami dan memecahkan  berbagai masalah yang dihadapi, akhirnya manusia dapat mengumpulkan pengetahuan. Keingintahuan yang makin meningkat menyebabkan pengetahuan dan daya fikirnya juga makin berkembang. Akhinya tidak hanya terbatas pada obyek yang dapat diamati dengan pancaindera saja, tetapi masalah-masalah lain, misalnya berhubungan dengan penilaian hal-hal baik dan buruk, indak atau tidak indah.[2]
Bila satu masalah dapat dipecahkan, timbul masalah lain menunggu pemecahannya. Manusia bertanya terus setelah tahu ”apa”nya, lalu, “bagaimana”, dan “mengapa”. Karena kemampuan manusia makin maju yang disertai dengan peralatan yang makin memadai, mereka terus mengembangkan pengetahuannya, tidak sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi juga lebih jauh untuk mengetahui yang “benar” dan yang  “salah”. Mereka terus berfikir sehingga akhirnya dapat menarik kesimpulan, karena pada hakekatnya manusia adalah makhluk berfikir, merasa, bersikap dan bertindak. .
Menurut Soertrisno dkk.,sesungguhnya manusia adalah mahluk yang lemah, yang keberadaannya sangat tergantung kepada penciptanya.[3] Akan tetapi kebergantungan terhadap sang pencipta tersebut bukanlah semata-mata melainkan ketergantungan (dependence) yang berkeleluasan (indevendence). Manusia menerima ketergantungan itu dengan otonomi, independensi, serta kreaktifitasnya sedemikian rupa sehingga mampu mempertahankan dan mengembangkan hidup dan kehidupannya.
Kemampuan manusia untuk menggunakan akal dalam memahami lingkungannya merupakan potensi dasar yang memungkinkan manusia Berfikir, dengan Berfikir manusia menjadi mampu melakukan perubahan dalam dirinya dan memang sebagian besar perubahan dalam diri manusia merupakan akibat dari aktivitas Berfikir, oleh karena itu sangat wajar apabila Berfikir merupakan konsep kunci dalam setiap diskursus mengenai kedudukan manusia di muka bumi, ini berarti bahwa tanpa Berfikir, kemanusiaan manusia  pun tidak punya makna bahkan mungkin tak akan pernah ada.
Dengan berfikir manusia mampu mengolah pengetahuan, dengan pengolahan tersebut, pemikiran manusia menjadi makin mendalam dan makin bermakna, dengan pengetahuan manusia mengajarkan, dengan berpikir manusia mengembangkan, dan dengan mengamalkan serta mengaplikasikannya manusia mampu melakukan perubahan dan peningkatan ke arah kehidupan yang lebih baik, semua itu telah membawa kemajuan yang besar dalam berbagai bidang kehidupan manusia (sudut pandang positif/normatif).
Dengan demikian kemampuan untuk berubah dan perubahan yang terjadi pada manusia merupakan makna pokok yang terkandung dalam kegiatan Berfikir dan berpengetahuan. Disebabkan kemampuan Berfikirlah, maka manusia dapat berkembang lebih jauh dibanding makhluk lainnya, sehingga dapat terbebas dari kemandegan fungsi kekhalifahan di muka bumi, bahkan dengan Berfikir manusia mampu mengeksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya.
Seiring kemampuan manusia untuk menggunakan akal dalam memahami lingkungannya, maka pemahaman tersebut harus didukung dengan pemikiran yang tidak hanya bertumpu kepada akal semata, akan tetapi perlu dilakukan langkah-langkah komprehensif dengan mengedepankan apa yang dikenal dengan langkah-langkah ilmiah.
Dikenal lah apa yang di sebut dengan Metode ilmiah yaitu langkah-langkah sistematis dan teratur yang digunakan dalam rangka mencari kebenaran ilmu pengetahuan. Metode ilmiah diperlukan dalam melakukan suatu penelitian. Mengapa kita harus melakukan penelitian ? Penelitian dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan rasa ingin tahu manusia terhadap suatu kejadian atau gejala alam tertentu. Ilmu pengetahuan terus berkembang karena para ilmuan tak berhenti mencari tahu dan meneliti mengenai gejala-gejala alam yang terjadi.
B.   RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pada pemikiran dan uraian di atas, dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.    Apakah kontribusi filsafat ilmu terhadap dunia ilmu pengetahuan khususnya pada konteks penerapan penelitian ilmiah?
2.    Apakah hubungan Filsafat Ilmu dengan Bidang Penelitian
C.   Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui kontribusi filsafat ilmu terhadap dunia ilmu pengetahuan khususnya pada konteks penerapan penelitian ilmiah.
2.    Untuk mengetahui hubungan Filsafat Ilmu dengan Bidang Penelitian



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.   HAKEKAT FILSAFAT ILMU
1.    Faktor-faktor Pendorong Timbulnya Filsafat dan Ilmu
Suatu peristiwa atau kejadian pada dasarnya tidak pernah lepas dari peristiwa lain yang mendahuluinya. Demikian juga dengan timbul dan berkembangnya filsafat dan ilmu. Menurut Rinjin,[4] filsafat dan ilmu timbul dan berkembang karena akal budi, thauma, dan aporia.
Manusia merupakan makhluk berakal budi.
Dengan akal budinya, kemampuan manusia dalam bersuara bisa berkembang menjadi kemampuan berbahasa dan berkomunikasi, sehingga manusia disebut sebagai homo loquens dan animal symbolicum.
Dengan akal budinya, manusia dapat berpikir abstrak dan konseptual sehingga dirinya disebut sebagai homo sapiens (makhluk pemikir) atau kalau menurut Aristoteles manusia dipandang sebagai animal that reasons yang ditandai dengan sifat selalu ingin tahu (all men by nature desire to know).
Pada diri manusia melekat kehausan intelektual (intellectual curiosity), yang menjelma dalam wujud aneka ragam pertanyaan. Bertanya adalah berpikir dan berpikir dimanifestasikan dalam bentuk pertanyaan.
a.    Manusia memiliki rasa kagum (thauma) pada alam semesta dan isinya
Manusia merupakan makhluk yang memiliki rasa kagum pada apa yang diciptakan oleh Sang Pencipta, misalnya saja kekaguman pada matahari, bumi, dirinya sendiri dan seterusnya. Kekaguman tersebut kemudian mendorong manusia untuk berusaha mengetahui alam semesta itu sebenarnya apa, bagaimana asal usulnya (masalah kosmologis). Ia juga berusaha mengetahui dirinya sendiri, mengenai eksistensi, hakikat, dan tujuan hidupnya.
b.    Manusia senantiasa menghadapi masalah
Faktor lain yang juga mendorong timbulnya filsafat dan ilmu adalah adalah masalah yang dihadapi manusia (aporia). Kehidupan manusia selalu diwarnai dengan masalah, baik masalah yang bersifat teoritis maupun praktis. Masalah mendorong manusia untuk berbuat dan mencari jalan keluar yang tidak jarang menghasilkan temuan yang sangat berharga (necessity is the mother of science).
2.    Hakikat Filsafat
a.    Pengertian Filsafat secara etimologis
Kata filsafat (philosophy) diambil dari bahasa Yunani: “Philos” (suka, cinta) dan “Sophia” (kebijaksanaan). Jadi kata itu berarti cinta kepada kebijaksanaan.[5] Mengenai definisi filsafat terdapat berbagai pandangan, dalam tulisan ini akan disajikan paling tidak lima pandangan atau definisi untuk memberikan keluasan pemahaman tentang filsafat.
Pertama, filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Kedua, filsafat adalah proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi. Ketiga, filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan yang dibedakan dari filsafat kritik. Keempat, filsafat adalah analisis logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Kelima, filsafat adalah sekumpulan problema yang langsung mendapat perhatian dari manusia yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.[6]
            Menurut Theo Huijber, filsafat merupakan suatu pengetahuan metodis dan sistematis yang melalui jalur refleksi hendak menangkap makna yang hakiki dari hidup dan gejala-gejala hidup sebagai bagian daripadanya.[7]
            Pada konteks pemahaman di atas, yang perlu mendapat kejelasan adalah pertama apakah filsafat merupakan suatu ilmu atau bukan dan kedua, menyangkut apakah filsafat hanya merupakan suatu pengetahuan.
Filsafat secara etimologis menurut Ali Maksum[8] merupakan padanan kata falsafah (bahasa Arab) dan philosophy (bahasa Inggris) berasal dari bahasa Yunani philosophia. Philosophia terdiri dari dua kata yaitu philos (cinta) dan sophos (kebijaksanaan/kebenaran), berarti filsafat jika dimaknai secara kata yaitu cinta kepada kebijaksanaan/kebenaran. Filsafat mengantarkan manusia pada nilai-nilai kebijaksanaan atau nilai kebenaran sehingga orang yang memiliki landasan berfikir dengan menyandarkan pada nilai-nilai kebijaksanaan atau kebenaran disebut filosof, seperti yang ditulis Paul Strathern[9] bahwa orang yang pertama ambil pusing adalah kalangan filosof/filsuf Neolitik (purba).
Berdasarkan arti secara etimologis sebagaimana dijelaskan di atas kemudian para ahli berusaha merumuskan definisi filsafat. Ada yang menyatakan bahwa filsafat sebagai suatu usaha untuk berpikir secara radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir dengan mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Aktivitas tersebut diharapkan dapat menghasilkan suatu kesimpulan universal dari kenyataan partikular atau khusus, dari hal yang tersederhana sampai yang terkompleks.
Katts off, sebagaimana dikutip oleh Associate Webmaster Professional, menyatakan karakteristik filsafat sebagai berikut :[10]
1)    Filsafat adalah berpikir secara kritis.
2)    Filsafat adalah berpikir dalam bentuk sistematis.
3)    Filsafat mengahasilkan sesuatu yang runtut.
4)    Filsafat adalah berpikir secara rasional.
5)    Filsafat bersifat komprehensif.
b.    Objek Filsafat
1)    Objek  material  filsafat  adalah  segala  sesuatu  yang  ada,  yang meliputi: ada dalam kenyataan, ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan.
2)    Objek formal filsafat adalah hakikat dari segala sesuatu yang ada.[11]
c.    Sistematika Filsafat
Sebagaimana pengetahuan yang lain, filsafat telah mengalami perkembangan yang pesat yang ditandai dengan bermacam-macam aliran dan cabang.
1)    Aliran-aliran Filsafat
Ada beberapa aliran filsafat dinataranya adalah : realisme, rasionalisme, empirisme, idealisme, materialisme, dan eksistensialisme.
2)    Cabang-cabang Filsafat
Filsafat memiliki cabang-cabang yang cukup banyak dinataranya adalah :  metafisika, epistemologi, logika, etika, estetika, filsafat sejarah, filsafat politik, dst.
3.    Hakikat Filsafat Ilmu
a.    Pengertian Filsafat Ilmu
Berbicar definisi filsafat ilmu tidak terlepas dari kata filsafat dan ilmu  filsafat adalah berfikir secara mendalam tentang sesuatu tanpa melihat dogma dan agama dalam mencari kebenaran sedang ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang(pengetahuan) yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan  untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang itu.
Pengertian Filsafat Ilmu dalam arti luas, yaitu mencakup permasalahan yang menyangkut berbagai hubungan ke luar dari kegiatan ilmiah seperti implikasi ontologik-metafisik dan citra dunia yang bersifat ilmiah, tata susila yang menjadi patokan dalam penyelenggaraan ilmu dan konsekuensi pragmatik-etik penyelenggara ilmu.[12]
Dalam arti sempit, pengertian filsafat ilmu yaitu menampung permasalahan yang bersangkutan dengan hubungan ke dalam yang terdapat di dalam ilmu, yaitu yang menyangkut sifat dari pengetahuan ilmiah dan cara-cara mengusahakan serta mencapai pengetahuan ilmiah.
Untuk mendapatkan gambaran secara lebih mendalam mengenai pengertian filsafat Ilmu dapatlah kiranya dideskripsikan beberapa pendapat ahli yaitu sebagai berikut :
1)    Cornelius Benjamin memandang filsafat ilmu sebagai berikut.  That philosophic discipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual disciplines.”  Filsafat ilmu, menurut Benjamin, merupakan cabang dari filsafat yang secara sistematis menelaah sifat dasar ilmu, khususnya mengenai metoda, konsep-konsep, dan pra anggapan-pra-anggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang-cabang pengetahuan intelektual.[13]
2)    Conny Semiawan at al menyatakan bahwa filsafat ilmu pada dasarnya adalah ilmu yang berbicara tentang ilmu pengetahuan (science of sciences) yang kedudukannya di  atas ilmu lainnya.[14]
3)    Menurut Berry Filsafat Ilmu adalah penelaahan tentang logika intern dan teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah. Bagi Berry, filsafat ilmu adalah ilmu yang di pakai untuk menelaah tentang logika, teori-teori ilmiah serta upaya pelaksanaannya untuk menghasilkan suatu metode atau teori ilmiah.[15]
4)    May Brodbeck, Filsafat ilmu adalah suatu analis netral yang secara etis dan falasafi, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu menurut Brodbck, ilmu itu harus bisa menganalisis, menggali, mengkaji bahkan melukiskannya sesuatu secara netral, etis an filosofis sehingga ilmu itu bisa di manfaatkan secara benar dan relevan.
5)    Lewis White Filsafat ilmu atau philosophy of science adalah ilmu yang mengkaji dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan.Lebih jauh Lewis menjelaskan Filsafat ilmu adalah ilmu yang mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiranilmiah serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan. Melalui filsafat ilmu ini kita akan mampu memahami dan menetapkan akan arti pentingnya usaha ilmiah, sebagai suatu keseluruhan
6)    Robert Ackermann filsafat ilmu adalah sebuah tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap pendapat-pendapat lampau yang telah dibuktikan atau dalam rangka ukuran-ukuran yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu demikian jelas bukan suatu cabang ilmu yang bebas dari praktik ilmiah senyatanya.[16]
7)    Peter Caw filsafat ilmu adalah suatu bagian filsafat yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat umumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya landasan bagi keyakinan dan tindakan di pihak lain, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi tindakan termasuk teori-teori nya sendiri dengan harapan dan penghapusan tidak ajegan dan kesalahan. Caw yakin bahwa melalui filsat ilmu seseoang membangun dua hal, menyajikan teori sebagai landasan bagi keyakinan tindakan dan memeriksa secara kritis segala sesuatu sebagai landasan bagi sebuah keyakinan atau tindakan.
8)    Alfred Cyril Ewing Filsafat ilmu menurutnya adalah salah satu bagian filsafat yang membahas tentang logika, di mana di dalamnya membahas tentang cara yang di khususkan metode-metode dari ilmu-ilmu yang berlainan . Lebih lanjut menjelaskan tanfa penguasaan filsafat ilmu, maka akan sulitlah seseorang dalam usahanya untuk memahami tentang ilmu secara baik dan profesional.
9)    The Liang Gie Merumuskan Filsafat ilmu merupakan segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi kehidupan manusia. Bagi Gie, filsafat ilmu bukan hanya di pahami sebagai ilmu untuk mengetahui metode dan analisis ilmu-ilmu lain, tetapi filsafat ilmu sebagai usaha seseorang dalam mengkaji persoalan-persoalan yang muncul melalui perenungan yang mendalam agar dapat diketahui duduk persoalannya secara mendasar sehingga dapat di manfaatkan dalam kehidupan manusia.
10) Menurut Beerling, filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang ciri-ciri mengenai pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut. Filsafat ilmu erat kaitannya dengan filsafat pengetahuan atau epistemologi yang secara umum menyelidiki syarat-syarat serta bentuk bentuk pengalaman manusia juga mengenai logika dan metodologi.[17]
11) Jujun S, Suriasumantri menjelaskan bahwa filsafat ilmu merupakan suatu pengetahuan atau epistemologi yang mencoba menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah tak lagi merupakan misteri, secara garis besar, Jujun menggolongkan pengetahuan menjadi tiga kategori umum, yakni 1) pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk yang disebut juga dengan etika 2) pengetahuan tentang indah dan jelek, yang disebut dengan estetika atau seni 3) pengetahuan tentang yang benar dan salah, yang disebut dengan logika.[18]
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, baik ditinjau dari segi ontologis, epistemologis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu. 
b.    Karakteristik filsafat ilmu
Dari beberapa pendapat di atas dapat diidentifikasi karakteristik filsafat ilmu sebagai berikut.
1)    Filsafat ilmu merupakan cabang dari filsafat.
2)     Filsafat ilmu berusaha menelaah ilmu secara filosofis dari sudut pandang ontologis, epistemologis, dan aksiologis.
B.   Metode Ilmiah
Metodologi penelitian adalah berarti Ilmu tentang metode. [19] Sedang penelitian adalah penelitian adalah kegiatan mencari dan mengumpulkan data kemudian mengolah, menganalisa dan mengkaji data yang dilakukan secara sistematis dan obyektif.[20]
            Jadi metodologi penelitian Ilmu yang mempelajari, menyelusuri, mencari dan mengumpulkan data kemudian mengolah, menganalisa dan menyajikan data yang dilakukan secara sistematis supaya diperoleh suatu kebenaran yang obyektif.
            Secara terminology, metodologi penelitian atau metodologi riset (science researct atau method), metodologi berasal dari kata methodology, maknanya Ilmu yang menerangkan metode-metode atau cara-cara. Penelitian adalah terjemahan dari bahasa inggris “research” yang terdiri dari kata “re” (mengulang) dan search (pencarian, pengajaran, penelusuran, penyelidikan atau penelitian) maka research berarti berulang melakukan pencarian.Metodologi penelitian bermakna seperangkat pengetahuan tentang langkah-langkah sistematis dan logis tentang pencarian data yang berkenaan dengan masalah tertentu untuk diolah, dianalisa, diambil kesimpulan dan selanjutnya dicarikan cara pemecahannya.[21]





BAB III
PEMBAHASAN

A.   Kontribusi filsafat ilmu terhadap ilmu pengetahuan khususnya pada konteks penerapan penelitian ilmiah.
Melihat dari sejarah hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat cepat. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dikemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain.
Menurut Bertens, filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah.[22] Namun munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, menyebabkan terjadinya perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17 tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat.
Ilmu pengetahuan di ambil dari bahasa inggris science, yang berasal dari bahasa latin scientie dari bentuk kata kerja scire yang berarti mempelajari, mengetahui. Pertumbuhan selanjutnya pengertian ilmu mengalami perluasan arti sehingga menunjuk segenap pengetahuan sistematik. Menurut Bahm defenisi ilmu pengetahuan paling tidak melibatkan enam macam komponen yaitu masalah, sikap, metode, aktivitas, kesimpulan dan pengaruh.[23] 
Selanjutnya Van Peursen mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut.[24]
Perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru, bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang “benar-tidaknya” dapat ditentukan.
Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu pengetahuan, maka kita dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan manusia, baik individual maupun sosial menjadi sangat menentukan.
Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dimana filsafat ilmu mencari pengetahuan umum tentang ilmu atau tentang dunia, sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu.
Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa, filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu.Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat. Michael whiteman dalam Koento Wibisono dkk mengemukakan bahwa persoalan ilmu dianggap bersifat ilmiah karena terlibat dalam persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yang lain tidak mungkin. Sebaliknya banyak persoalan filsafati sangat memerlukan landasan pengetahuan ilmiah.[25]    
Teori kebenaran yang ada pada filsafat ilmu digunakan sebagai dasar untuk menghasilkan kebenaran agar berpikir tepat dan logis. Sebab dengan adanya cara berpikir logis, maka pengetahuan manusia akan kebenaran dan cara memperoleh pengetahuan juga berkembang.
Semua orang memiliki pemahaman yang sama akan sesuatu hal yang dari dahulu hingga sekarang tetap sama. Sebagai contoh, meja dari dahulu hingga sekarang tetaplah bernama meja tidak digantikan dengan yang lain.
Namun bila dilihat dari sisi lain bahwa teori kebenaran juga merupakan batas pengetahuan dalam landasan teori kebenaran. Pembatasan pengetahuan itu dibatasi oleh panca indera kita. Kita dapat melihat, mendengar, mengecap, meraba, dan mencium dari panca indera itu secara tepat. Apabila salah satu dari panca indera tersebut tidak berfungsi dengan baik maka tidak dapat berpikir secara tepat.
Selain pengetahuan yang bersumber dari indera, juga terdapat pengetahuan yang bersumber dari non indera. Adapun pengetahuan yang bersumber dari non indrawi ini, yaitu berasal dari akal budi manusia atau rasio manusia. Melalui akal, manusia dapat berpikir secara tepat dan logis, dapat memiliki gagasan atau ide dan hasil dari berpikir itu adalah pengetahuan yang rasional.
Kreativitas lahir bersama dengan lahirnya manusia itu. Kreativitas tidak hanya sebagai penalaran, tetapi juga meningkatkan dan membuka tabir alam yang tersedia dalam suatu dimensi kreatif. Kreativitas terdiri dari empat fungsi dasar yang interaktif, yaitu: 1.berpikir rasional, 2. perkembangan emosional,3. perkembangan bakat khusus, dan 4. tingkat tinggi kesadaran yang menghasilkan imajinasi, fantasi, pendobraka pada kondisi ambang kesadaran atau ketaksadaran
William S. menjelaskan tentang tahap-tahap dalam proses kreatifitas berlangsung melalui persiapan (preparation), inkubasi (incubation), iluminasi (illumination) dan verifikasi (verification). Sadangkan perkembangan kreativitas dapat diibaratkan lingkaran eskalasi yang memiliki aspek urutan (succession), diskontinuitas (discontinuity), kemenonjolan (emergence), diferensiasi dan integrasi.[26]    
Peranan aktivitas dalam evolusi ilmu dapat dikembangkan melalui potensi kreatif individu dan kelompok yang merupakan kemungkinan dan kekuatan untuk menjalankan berbagai langkah perubahan kehidupan manusia, dalam rangka meningkatkan harkat dan martabatnya. Demikian pula pengaruh dimensi kreatif dapat dilihat dari perkembangan ide-ide kreatif yang mencetuskan teori-teori ilmiah spektakuler, meskipun terdapat dampak negatif yang ditimbulkan oleh kemajuan tersebut.
Perkembangan semua pengetahuan tersebut sangat pesat. Semakin banyak pengalaman, maka semakin akan semakin mendorong manusia untuk mencari dan mengembangkannya, sehingga akan semakin banyak khasanah cabang pengetahuan tersebut. Perkembangan pengetahuan manusia mengakibatkan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan manusia. Menurut Chalmers pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan diperkirakan sejak 400 tahu yang lalu. Sejak pemikir-pemikir seperti Copermicus, Galileo, Kappler, dan yang lebih jelas lagi sejak F. Bacon pada abad ke 15 dan 16.[27]  
Semua karakteristik manusia yang menggambarkan ketinggian dan keagungan pada dasarnya merupakan akibat dari anugrah akal yang dimilikinya, serta pemanfaatannya untuk kegiatan berfikir, bahkan Tuhan pun memberikan tugas kekhalifahan di muka bumi pada manusia tidak terlepas dari kapasitas akal untuk berfikir, berpengetahuan, serta membuat keputusan, dalam hal melakukan dan atau tidak melakukan yang tanggungjawabnya inheren pada manusia, sehingga perlu dimintai pertanggungjawaban.
Sutan Takdir Alisjahbana,[28] menyatakan bahwa pikiran memberi manusia pengetahuan yang dapat dipakainya sebagai pedoman dalam perbuatannya, sedangkan kemauanlah yang menjadi pendorong perbuatan mereka. Oleh karena itu berfikir merupakan atribut penting yang menjadikan manusia sebagai manusia, berfikir adalah fondasi dan kemauan adalah pendorongnya.
Kalau berfikir (penggunaan kekuatan akal) merupakan salah satu ciri penting yang membedakan manusia dengan hewan, sekarang apa yang dimaksud berfikir, apakah setiap penggunaan akal dapat dikategorikan berfikir, ataukah penggunaan akal dengan cara tertentu saja yang disebut berfikir.
Para ahli telah mencoba mendefinisikan makna berfikir dengan rumusannya sendiri-sendiri, namun yang jelas tanpa akal nampaknya kegiatan berfikir tidak mungkin dapat dilakukan, demikian juga pemilikan akal secara fisikal tidak serta merta mengindikasikan kegiata berfikir.
Menurut J.M. Bochenski berfikir adalah perkembangan ide dan konsep, definisi ini nampak sangat sederhana namun substansinya cukup mendalam, berfikir bukanlah kegiatan fisik namun merupakan kegiatan mental, bila seseorang secara mental  sedang mengikatkan diri dengan sesuatu dan sesuatu itu terus berjalan dalam ingatannya, maka orang tersebut bisa dikatakan sedang berfikir.
Jika demikian berarti bahwa berfikir merupakan upaya untuk mencapai pengetahuan. Upaya mengikatkan diri dengan sesuatu merupakan upaya untuk menjadikan sesuatu itu ada dalam diri (gambaran mental) seseorang, dan jika itu terjadi tahulah dia, ini berarti bahwa dengan berfikir manusia akan mampu memperoleh pengetahuan, dan dengan pengetahuan itu manusia menjadi lebih mampu untuk melanjutkan tugas kekhalifahannya di muka bumi serta mampu memposisikan diri lebih tinggi dibanding makhluk lainnya.
Menurut Jujun S Suriasumantri,[29]  Berfikir merupakan suatu proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Dengan demikian berfikir mempunyai gradasi yang berbeda dari berfikir sederhana sampai berfikir yang sulit, dari berfikir hanya untuk mengikatkan subjek dan objek sampai dengan berfikir yang menuntut kesimpulan berdasarkan ikatan tersebut.
Sementara itu Partap Sing Mehra menyatakan bahwa proses berfikir mencakup hal-hal sebagai berikut yaitu  :[30]
a.    Conception (pembentukan gagasan)
b.    Judgement (menentukan sesuatu)
c.    Reasoning (Pertimbangan pemikiran/penalaran)
Bila seseorang mengatakan bahwa dia sedang berfikir tentang sesuatu, ini mungkin berarti bahwa dia sedang membentuk gagasan umum tentang sesuatu, atau sedang menentukan sesuatu, atau sedang mempertimbangkan (mencari argumentasi) berkaitan dengan sesuatu tersebut.
            Cakupan proses berfikir sebagaimana disebutkan di atas menggambarkan bentuk substansi pencapaian kesimpulan, dalam setiap cakupan terbentang suatu proses (urutan) berfikir tertentu sesuai dengan substansinya.
Menurut John Dewey proses berfikir mempuyai urutan-urutan (proses) sebagai berikut :
a.    Timbul rasa sulit, baik dalam bentuk adaptasi terhadap alat, sulit mengenai sifat, ataupun dalam menerangkan hal-hal yang muncul secara tiba-tiba.
b.    Kemudian rasa sulit tersebut diberi definisi dalam bentuk permasalahan.
c.    Timbul suatu kemungkinan pemecahan yang berupa reka-reka, hipotesa, inferensi atau teori.
d.    Ide-ide pemecahan diuraikan secara rasional melalui pembentukan implikasi dengan jalan mengumpulkan bukti-bukti (data).
e.    Menguatkan pembuktian tentang ide-ide di atas dan menyimpulkannya baik melalui keterangan-keterangan ataupun percobaan-percobaan.
Urutan langkah (proses) berfikir seperti tersebut di atas lebih menggambarkan suatu cara berfikir ilmiah, yang pada dasarnya merupakan gradasi tertentu disamping berfikir biasa yang sederhana serta berfikir radikal filosofis, namun urutan tersebut dapat membantu bagaimana seseorang berfikir dengan cara yang benar, baik untuk hal-hal yang sederhana dan konkrit maupun hal-hal yang rumit dan abstrak, dan semua ini dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki oleh orang yang berfikir tersebut.

Berfikir mensyaratkan adanya pengetahuan (Knowledge) atau sesuatu yang diketahui agar pencapaian pengetahuan baru lainnya dapat berproses dengan benar, sekarang apa yang dimaksud dengan pengetahuan ?,
Menurut Langeveld pengetahuan ialah kesatuan subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui, di tempat lain dia mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan kesatuan subjek yang mengetahui dengan objek yang diketahui, suatu kesatuan dalam mana objek itu dipandang oleh subjek sebagai dikenalinya.
Dengan demikian pengetahuan selalu berkaitan dengan objek yang diketahui, sedangkan Feibleman menyebutnya hubungan subjek dan objek (Knowledge : relation between object and subject). Subjek adalah individu yang punya kemampuan mengetahui (berakal) dan objek adalah benda-benda atau hal-hal yang ingin diketahui. Individu (manusia) merupakan suatu realitas dan benda-benda merupakan realitas yang lain, hubungan keduanya merupakan proses untuk mengetahui dan bila bersatu jadilah pengetahuan bagi manusia.
Di sini terlihat bahwa subjek mesti berpartisipasi aktif dalam proses penyatuan sedang objek pun harus berpartisipasi dalam keadaannya, subjek merupakan suatu realitas demikian juga objek, ke dua realitas ini berproses dalam suatu interaksi partisipatif, tanpa semua ini mustahil pengetahuan terjadi, hal ini sejalan dengan pendapat Max Scheler yang menyatakan bahwa pengetahuan sebagai partisipasi oleh suatu realita dalam suatu realita yang lain, tetapi tanpa modifikasi-modifikasi dalam kualitas yang lain itu. Sebaliknya subjek yang mengetahui itu dipengaruhi oleh objek yang diketahuinya.
Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang diketahui tentang objek tertentu, termasuk ke dalamnya ilmu (Jujun S Suriasumantri,)[31] Pengetahuan tentang objek selalu melibatkan dua unsur yakni unsur representasi tetap dan tak terlukiskan serta unsur penapsiran konsep yang menunjukan respon pemikiran.
Unsur konsep disebut unsur formal sedang unsur tetap adalah unsur material atau isi (Maurice Mandelbaum). Interaksi antara objek dengan subjek yang menafsirkan, menjadikan pemahaman subjek (manusia) atas objek menjadi jelas, terarah dan sistimatis sehingga dapat membantu memecahkan berbagai masalah yang dihadapi. Pengetahuan tumbuh sejalan  dengan bertambahnya pengalaman, untuk itu diperlukan informasi yang bermakna guna menggali pemikiran untuk menghadapi realitas dunia dimana seorang itu hidup (Harold H Titus).
Menurut Andi Hakim Nasution dalam Jujun mengemukakan bahwa sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini yang dilestarikan jangan punah, melainkan manusia jawa.[32]
Kemampuan menalar ini menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya. Secara simbolik manusia memakan buah pengetahuan lewat Adam dan Hawa dan setelah  itu manusia harus hidup berbekal pengetahuan tersebut.
Dia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang indah dan mana yang jelek. Manusia adalah satu-satunya mahluk yang mengembangkan pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya.
Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalah tidak sama, maka oleh sebab itu kegiatan proses berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itu-pun berbeda-beda. Menurut Jujun penalaran merupakan suatu proses perpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan mahluk yang berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak.[33]  
Pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran, maka proses berpikir itu harus dilakukan suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau proses kesimpulan terseburt dilakukan menurut cara tertentu.
Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, dimana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara sahih.[34] Terdapat bermacam-macam cara penarikan kesimpulan, namun untuk kesesuaian studi yang memusatkan diri pada penalaran ilmiah.
Baik logika deduktif maupun logika induktif dalam proses penalarannya, merupakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggapnya benar. Kenyataan ini membawa kita kepada sebuah pernyataan yaitu bagaimanakah caranya mendapatkan pengetahuan yang benar. Sebenarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Pertama mendasarkan diri pada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman.
Disamping rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting untuk kita ketahuai adalah intuisi dan wahyu. Namun sampai sekarang ini pengetahuan yang didapatkan secara rasional dan empiris. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu.
Intuisi bersipat personal dan tidak bisa diramalkan. Pengetahuan Intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakannya. Stanley Maslow dalam Invitation to Philosophy mengemukakan intuisi ini merupakan pengalaman puncak.[35]   Sedangkan bagi Nietzsche dalam George F. Kneller. Intruduktion to the Philosohy of  Education mengemukakan intuisi merupakan inteligensi yang paling tinggi.[36]
Penalaran mempunyai banyak masalah yang sulit. Namun yang terpenting adalah bagaimana cara kita menemukan atau mengetahui suatu objek yang belum tentu lewat penarikan kesimpulan. Saya mengetahui masalah ini tampaknya sangat sulit bagi saya dan saya tak bisa memberikan pemecahan yang lengkap. Namun suatu hal yang  pasti bahwa kita dapat mempelajari sesuatu dengan diskusi.[37]   
Contoh, jika seorang bertanya kepada saya berapakah 23.169 x 7.84. Mula-mula memang saya tidak tahu, tetapi setelah saya duduk mengerjakan perkalian tersebut lalu saya tahu bahwa 23.169 x 7.84 adalah 181.807.143. tetapi proses perkalian ini adalah berpikir:adalah penalaran.
Sebelum melakukan tindakan atau penerapan dalam penelitian ilmiah, maka terlebih dahulu harus memahami struktur penelitian dan penulisan ilmiah. Pemilihan bentuk dan cara penulisan dari khasanah yang tersedia merupakan masalah selera, dan prefrensi program dengan memperhatikan berbagai faktor lainnya seperti masalah apa yang sedang dikaji, siapakah pembaca tulisan ini dan dalam rangka kegiatan keilmuan apa karya ilmiah ini disampaikan.
Penulisan ilmiah pada dasarnya merupakan argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan lewat bahasa tulisan. Maka itu mutlak diperlukan penguasaan yang baik mengenai hakikat keilmuan agar dapat melakukan penelitian dan sekaligus mengkomunikasikannya secara tertulis. Sehingga tidak lagi menjadi soal dari mana dia akan memulai, sesudah itu melangkah ke mana. Sebab penguasaan tematis dan teknik akan menjamin suatu keseluruhan bentuk yang utuh.
Demikian juga bagi seorang penulis ilmiah yang baik, tidak jadi masalah apakah hipotesis ditulis langsung setelah perumusan masalah, ditempat mana akan dinyatakan postulat, asumsi, atau prinsip, sebab dia tahu benar hakikat dan fungsi unsur-unsur tersebut dalam keseluruhan struktur penulisan ilmiah.
Setelah masalah dirumuskan dengan baik, maka seorang peneliti menyatakan tujuan penelitiannya. Tujuan penelitian ini adalah pernyataan mengenai ruang lingkup dan kegiatan yang akan dilakukan berdasarkan masalah yang dirumuskan. Setelah itu dibahaslah kemungkinan-kemungkinan kegunaan penelitian yang merupakan manfaat yang dapat dipetik dari pemecahan masalah yang didapat dari peneliti.
Menurut Jujun S. mengemukakan secara kronologis dapat kita simpulkan enam kegiatan dalam langkah dalam pengajuan masalah yaitu latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian.[38] Patut dikemukakan bahwa terdapat kaitan yang erat antara keenam kegiatan tersebut. Antara latar belakang masalah dan kegunaan penelitian kadamg-kadang sudah terdapat kaitan yang bersifat a priori umpamanya sebuah penelitian akan digunakan sebegian dasar penyusunan kebijakan secara nasional. Tentu saja hasil penelitian dipergunakan untuk kebijakan bersifat nasional, maka hal ini akan mempengaruhi empat kegiatan lainnya terutama sekali proses pembatasan masalah, sebab untuk generalisasi ke tingkat nasional kita tidak mungkin melakukan infersens dari hasil penelitian yang terbatas pada suatu kecamatan.
Setelah masalah berhasil dirumuskan dengan baik maka langkah kedua dalam metode ilmiah adalah mengajukan hipotesis. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan. Seperti diketahui dalam memecahkan berbagai persoalan terdapat bermacam cara yang dapat ditempuh manusia. Namun secara garis besarnya maka cara tersebut dapat dikategorikan kepada cara ilmiah dan non ilmiah.
Dengan meletakkan kerangka teoritis pada fungsi sebenarnya maka kita lebih maju dalam meningkatkan mutu keilmuan keegiatan penelitian. Secara ringkas langkah dalam menyusun kerangka teoritis dan pengauan hipotesis adalah: pengkajian mengenai teori-teori ilmiah yang akan dipergunakan dalam analisis, pembahasan mengenai penelitian-penelitian yang relevan, penyusunan kerangka berpikir, dalam pengajuan hipotesis dengan menggunakan premis-premis dan perumusan hipotesis.
Metodologi penelitian. Pada bagian ini setelah berhasil merumuskan hipotesis yang diturunkan secara deduktif dari pengetahuan ilmiah yang relevan maka langkah berikutnya adalah mengajukan hipotesis tersebut secara empirik. Artinya kita melakukan verifikasi apakah pernyataan yang didukung. Oleh hipotesis yang diajukan tersebut didukung atau tidak oleh kenyataan yang bersifat faktual.
Secara ringkas dalam penyusunan metodologi penelitian mencakup kegiatan sebagai berikut:
1.    tujuan penelitian secara lengkap dan operasional dalam bentuk pertanyaan, yang mengidentifikasikan variabel-variabel dan karakteristik-karakteristik hubungan yang akan diteliti,
2.    tempat dan waktu penelitian dimana akan dilakukan generalisasi mengenai variabel-variabel yang diteliti,
3.    metode penelitian yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian dan tingkat generalisasi yang diharapkan,
4.    teknik pengambilan contoh yang relevan dengan tujuan penelitian tingkat keumuman dan metode penelitian,
5.    teknik pengumpulan data yang mencakup identifikasi variabel yang akan dikumpulkan, sumber data, teknik pengukuran, instrument, dan teknik mendapatkan data,
6.    teknik analisis data yang mencakup langkah-langkah dan teknik analisis yang dipergunakan yang ditetapkan berdasarkan pengajuan hipotesis.
Setelah perumusan masalah, pengajuan hipotesis dan penetapan metode penelitian maka sampailah kita kepada langkah berikutnya yakni melaporkan hasil apa yang kita temukan berdasarkan hasil penelitian. Sebaiknya bagian ini betul-betul dipergunakan untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan, selama penelitian untuk menarik kesimpulan penelitian.
Deskripsi tentang langkah-langkah dan cara pengelompokan data sebaiknya sudah dinyatakan dalam metodologi penelitian.  Namun sering kita melihat bahwa bagian ini dipenuhi dengan pernyataan-pernyataan yang kurang relevan dan pembahasan hasil penelitian yang menyebabkan menjadi kurang tajamnya fokus analisis dalam pengkajian.
Dengan memahami struktur penelitian dan penulisan ilmiah,  maka barulah dalam peroses penerapan ilmiah dapat dilakukan dengan baik sehinga hasilnya pun dapat dicapai dengan baik serta bermanfaat kepada pengembangan ilmu pengetahuan.
B.   Hubungan Filsafat Ilmu dengan Bidang Penelitian
Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya, jika kebenaran yang sebenarnya itu disusun secara sistematis, jadilah ia sistematika filsafat, sistematika filsafat itu biasanya terbagi atas tiga cabang besar filsafat yaitu: teori pengetahuan, teori hakekat dan teori nilai.
            Isi filsafat ditentukan oleh obyek apa yang dipikirkan, obyek yang difikirkan oleh filosof ialah segala yang ada dan yang mungkin ada. Jadi filsafat sebagai suatu proses berfikir bebas, sistematis, radkal dan mencapai dataran makna yang mempunyai cabang ontology, epistemologi dan aksiologi.
            Ontologi dinamakan sebagai teori hakekat, teori hakekat ini sangat luas, segala yang ada yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup penetahuan pengetahuan dan nilai (yang di carinya ialah hakekat penegetahuan dan hakekat nilai).
            Didalam ontology membahas dua bidang yaitu:
1.    Kosmologi membicarakan hakekat asal, hakekat susunan, hakekat berada, juga hakekat tujuan kosmos.
2.    Metafisik atau antropologi secara etimologis berarti dibalik atau dibelakang fisika artinya ia ingin mengerti atau mengetahui apa yang ada dibalik dari alam ini atau suatu yang tidak nampak.[39]
            Jadi kosmologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki hakekat asal, susunan, tujuan alam besar, yang dibicarakan didalam cabang ini missal hakekat kosmos, bagaimana caranya ia menjadi (how daes it come to being) dan lain-lain. Mungkin ada orang yang beranggapan bahwa teori kosmologi itu merupakan teori astronomi, sebenarnya bukan, astronomi adalah sains sedangkan kosmologi adalah filsafat. Sedangkan metafisika adalah membicarakan hakekat manusia dari sgi filsafat, umpamanya apa manusia itu? dan dari mana asalnya, apa akhir atau tujuannya?. Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan.[40] atau suatu cabang filsafat yang membahas sumber, proses, syarat, batas dan validitas dan hakekat pengetahuan. Sistematika dan logika sangat berperan dalam epistemologi demikian pila metode-metode berfikir seperti deduktif dan induktif.
            Epistemologi dari sini dapat disimpulkan bahwa bila ontology memahami sesuatu adalah tunggal maka cara memperoleh kebenarannya dengan menggunakan jenis penelitian kuantitatif, akan tetapi bila ontologynya memahami sesuatu secara jamak, maka digunakan jenis penelitian kualitatif.
            Aksiologi ialah cabang filsafat yang menyelidiki nilai-nilai (value), tindakan moral melahirkan nilai etika, ekspresi keindahan yang melahirkan nilai esthetika dan kehidupan sosiolah yang menjelaskan apa yang di anggap baik dalam tingkah laku manusia, apa yang di maksud indah dalam seni. Demikian pula apakah yang benar dan diinginkan didalam organisasi sosial kemasyarakatan dan kenegaraan.[41]
            Dalam aksiologi ini di pengaruhi oleh ontology yang digunakan , ontology yang memahami sesuatu itu tunggal, penelitiannya jenis kuantitatif, maka Ilmu yang dibentuknya disebut nomotetik dan bebas nilai, sedangkan ontology yang memahami sesuatu itu jamak dan penelitiannya jenis kualitatif. Maka Ilmu yang di hasilkan disebut ideografik dan bermuatan nilai.
            Menurut Jujun S. Suria Sumantri filsafat Ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakekat Ilmu dan pengetahuan ilmiah.[42]
            Sedangkan menurut tim Dosen filsafat Ilmu UGM, filsafat imu secara sistematis merupakan cabang dari rumpun kajian epistemologi. Epistemologi sendiri mempunyai dua cabang yaitu filsafat pengetahuan (theory of knowledge) dan filsafat Ilmu (theori of science) objek material flsafat pengetahuan yaitu gejala pengetahuan, sedang objek material filsafat yaitu mempelajari gejala-gejala Ilmu menurut sebab secara pokok.[43]
            Metodologi penelitian adalah seperangkat penegetahuan tentang langkah-langkag sistematis dan logis tentang pencarian data, pengolahan data, analisa data, pengambilan kesimpulan dan cara pemecahan.
            Didalam menjalankan fungsinya metodologi menggunakan cara dan di buktikan kebenarannya adalah metode ilmiah. Menurut JUjun S. Suria Sumantri: Jadi metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari pelaturan-pelaturan yang terdapat dalam metode ilmiah. Metode in secara filsafati termasuk dalam apa yang di namakan epistemologi. Epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapat pengetahuan, apakah sumber-sumber pengetahuan? apakah hakekat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? apakah manusia di mungkinkan untuk mendapat pengetahuan? sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk di tangkap manusia.[44]
            Dari sini dapat kita ketahui bahwa metode ilmiah merupakan bagian dari metodologi ilmiah, bahwa filsafat Ilmu dan metodologi penelitian mempunyai kedudukan yang sama dalam cabang filsafat yaitu masuk dalam golongan epistemologi.
Menurut Amsal Bahtiar tujuan filsafat Ilmu adalah:
1.   Mendalami unsur-unsur pokok Ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber hakekat dan tujuan Ilmu
2.   Memahami sejarah pertumbuhan , perkembangan dan kemajuan Ilmu di berbagai bidang, sehingga kita mendapat gambaran tentang proses Ilmu kontemporer secara histories.[45]
            Metodologi bisa juga diartikan Ilmu yang membahas konsep berbagai metode, apa kelebihan dan kekurangan dari suatu, kemudian bagaimana seseorang memilih suatu metode. Sedangkan penelitian bertujuan menghimpun data yang akurat yang kemudian diproses sehingga menemukan kebenaran atau teori atau Ilmu dan mungkin pula mengembangkan kebenaran terdahulu atau menguji kebenaran tersebut.[46]
            Jadi metode ilmiah untuk memperoleh Ilmu pengetahuan yang benar di perlukan cara-cara yang benar pula. Menurut para pakar , mencari kebenaran, cara-cara memperoleh kebenaran ilmiah diebut metode ilmiah, yang terdiri mencari masalah, menentukan hipotesis, menghimpun data, menguji hipotesis, prinsip ini berlaku untuk untuk semua sains oprasionalisasi, metode ilmiah itu dilakukan bidang studi metodologi penelitian. dari sini tampak dengan jelas hubugan antara filsafat Ilmu dengan metodologi penelitian.




Filsafat Ilmu dan penelitian
Ontologi
Epistemologi
Aksiologi
- Membahas apa yang ingin diketahui
- Suatu pengkajian mengenai teori tentang ada
- Objek yang di telaah Ilmu adalah sesuatu yang berberada dalam jangkauan pengalaman manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang di uji indra manusia yang berorientasi empiris
- Kuantitatif dan kualitatif
- Membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan
- Ilmu pengetahuan diperoleh melalui proses metode
- Hakekat keilmuan ditentukan oleh cara berfikir yang dilakukan dengan sifat terbuka dan menjunjung tinggi kebenaran diatas segala-galanya
- Metode ilmiah, logico hypotico verivicative dan deducto hypotetici verivicative
- Membahas tentang manfaat yang di peroleh manusia dari pengetahuan yang didapatkanya
- Analisa tentang penerapan hasil-hasil temuan Ilmu pengetahuan
BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan apa yang telah di paparkan dalam pembahasan diatas, penulis menyimpulkan bahwa:
1.    Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Teori kebenaran yang ada pada filsafat ilmu digunakan sebagai dasar untuk menghasilkan kebenaran untuk berpikir tepat dan logis. Dengan adanya cara berpikir logis, maka pengetahuan manusia akan kebenaran dan cara memperoleh pengetahuan juga berkembang. Namun bila dilihat dari sisi lain bahwa teori kebenaran juga merupakan batas pengetahuan dalam landasan teori kebenaran. Kemampuan menalar ini menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya. Secara simbolik manusia memakan buah pengetahuan lewat Adan dan Hawa dan setelah itu manusia harus hidup berbekal pengetahuan. Penulisan ilmiah pada dasarnya merupakan argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan lewat bahasa tulisan. Maka itu mutlak diperlukan penguasaan yang baik mengenai hakikat keilmuan agar dapat melakukan penerapan dalam suatu penelitian dan sekaligus mengkomunikasikannya secara tertulis.
2.    Filsafat Ilmu merupakan cabang dari Ilmu filsafat yang termasuk dataran epistemology. Filsafat Ilmu membahas tentang ontology, epistemologi, dan aksiologi. Metodologi ditinjau dari Ilmu filsafat juga termasuk dalam tataran epistemology. Filsafat Ilmu dan metodologi penelitian menduduki posisi yang sama dalam Ilmu filsafat yaitu pada tataran epistemology. Dan untuk mencapai hasil penelitian yang valid, metodologi harus di landasi filsafat Ilmu.
















PUSTAKA ACUAN

A.   BUKU
Ali Maksum. 2008. Pengantar Filsafat (dari Klasik Hingga Post modernisme). Jakarta: Ar-Ruzz Media.

A.   Susanto. 2011. Filsafat Ilmu: Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis, Jakarta: Bumi Aksara.

Ahmad Tafsir. 2003. Filsafat Umum. Bandung: PT  Remaja Rosda Karya.

Ali Maksum. 2008. Pengantar Filsafat (dari Klasik Hingga Post modernisme). Jakarta: Ar-Ruzz Media.

Amsal Bakhtiar. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Findo Persada.

Bahm, Archie, J., 1980. What Is Science,; The Science Of Values: Reprinted from my Axiology.

Bertens, K., 1987. Panorama Filsafat Modern, Jakarta: Gramedia.

Bertens, K., 1999. Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Chalmers A.F. 1983. Apa itu yang dinamakan Ilmu. Jakarta. Suatu Penilaian tentang watak dan Status Ilmu Serta Metodenya. (Terjemahan redaksi Hasta Mitra,  Hasan Mitra).

EM Zul Fajri. Ratu Aprilia Senja, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Difa Publiher.

George F. Kneller.  1989. Intruduktion to the Philosohy of  Education, New Yoark: John Weley.

Gie The Liang. 1991. Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Liberty.

Huijber Theo. 1982. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah, Yogyakarta: Yayasan Kanisius.

Jujun S. 2007 Filsafat ilmu. (sebuah Pengantar popoler). Jakarta: PT. Pancaranintan Indgraha.

 …………… 2006. Ilmu Dalam Persepektif . Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakekat Ilmu, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
……………. 2005. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan.

…….…….. 2001. Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Kuhn Thomas S. 2008. The Structure of Scientific Revolutions. Bandung: Penerbit PT. remaja Rosdakarya

Koento Wibisono S. dkk. 1997. “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan  “Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte Gadjah Mada University Yogyakarta   “Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umum Mengenai Kelahiran Dan Perkembangannya Sebagai Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu Yogyakarta: UGM.

Lasiyo dan Yuwono. (1994). Pengantar Ilmu Filsafat. Yogyakarta : Liberty.

Mohammad Noor Syam. 983. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional.

Nuchelmans, G., 1982. “Berfikir Secara Kefilsafatan: Bab X, Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam, Dialihbahasakan Oleh Soejono Soemargono”, Yogyakarta: UGM.

Noehadi tati herawaty, 2002.  Menyoal Objektifitas Ilmu pengetahuan. (Penerbit Teraju Khazanah Pustaka Keilmuan).

Otje Salman. 2012. Filsafat Hukum Perkembangan & Dinamika Masalah, Cet. Ketiga, Bandung: PT. Refika Aditama.

Partap Sing Mehra. 2001. Pengantar Logika Tradisional. Bandung: Putra Bardin.

Rinjin, Ketut. (1997) Pengantar Filsafat Ilmu dan Ilmu Sosial Dasar.Bandung : CV Kayumas.

Semiawan,  Conny  et  al.  1998. Dimensi  Kreatif  dalam  Filsafat  Ilmu. Bandung: CV Remaja Karya. 

Soeparmo, A.H. 1984. Struktur Keilmuwan Dan Teori Ilmu Pengetahuan Alam. Penerbit Airlangga University.

Stanly M. Honer dan Thomas C. Hunt 1988. Invitation to philosophy Belmont, Cal : Wadsworth:

Strathern, Paul. 2001. 90 Menit Bersama Sokrates. Jakarta: Erlangga.

Sutan Takdir Alisjahbana. 1981. Pembimbing ke Filsafat. Jakarta: Dian Rakyat.

Sutrisno dkk, 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Penerbit C.V. Andi Offset.
Tim Dosen filsafat Ilmu Fakultas filsafat UGM. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty. 

Van Paursen dkk, 2003. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogya: PT. Tiara Wacana.

Wardi Bachtiar. 1997. Metodologi Penelitian Ilmu dakwa. perpustakaan Nasional

William S. 1995. Sahakian dan dan Mabel Lewis sahakian, realism of Pholosopy, ( Cam Bridge, Mass: Schenkman).


B.   INTERNET

Associate Webmaster Professional. (2001)  “Terminologi Filsafat” Internet : http://www.filsafatkita.f2g.net. Diakses pada tanggal 12 Maret 2017 pukul 20.00 WIB.

Manusia sebagai makhluk berpikir”, http://marselo2.blogspot.co.id/2013/02/manusia-sebagai-makhluk-berpikir.html. Diakses pada tanggal 12 Maret 2017 pukul 20.00 WIB.

Pengertian Filsafat Ilmu menurut Para Pakar”, http://www.pengertianpakar.com/2014/09/pengertian-filsafat-ilmu-menurut-para-pakar.html. Diakses Pada tanggal 15 Maret 2017, pukul 16.00 WIB.


[1] “Manusia sebagai makhluk berpikir”, http://marselo2.blogspot.co.id/2013/02/manusia-sebagai-makhluk-berpikir.html. Diakses pada tanggal 12 Maret 2017 pukul 20.00 WIB.
[2] Ibid
[3] Sutrisno dkk, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, C.V. Andi Offset, Yogyakarta, 2007, hlm. 2.

[4] Rinjin, Ketut. Pengantar Filsafat Ilmu dan Ilmu Sosial Dasar. CV Kayumas, Bandung, 1997, hlm.9-10. 

[5] Otje Salman, Filsafat Hukum Perkembangan & Dinamika Masalah, Cet. ketiga, PT. Refika Aditama, Bandung, 2012, hlm.3
[6] Ibid
[7] Theo Huijber, Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah, Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1982, hlm. 12.
[8] Ali Maksum, Pengantar Filsafat (dari Klasik Hingga Postmodernisme), Ar-Ruzz Media, Jakarta, 2008, hlm. 15.
[9] Strathern, Paul, 90 Menit Bersama Sokrates, Erlangga, Jakarta, 2001, hlm. 1.
[10] Associate Webmaster Professional. (2001)  “Terminologi Filsafat” Internet : http://www.filsafatkita.f2g.net

[11] Lasiyo dan Yuwono. (1994) Pengantar Ilmu Filsafat. Yogyakarta : Liberty. Moleong, hlm. 6.
[12]Pengertian Filsafat Ilmu menurut Para Pakar”, http://www.pengertianpakar.com/2014/09/pengertian-filsafat-ilmu-menurut-para-pakar.html. Diakses Pada tanggal 15 Maret 2017, pukul 16.00 WIB.
[13] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Liberty, Yogyakarta, 1991, hlm. 58.
[14] Semiawan,  Conny  et  al.  Dimensi  Kreatif  dalam  Filsafat  Ilmu. CV Remaja Karya, Bandung, 1998, hlm. 58. 
[15] A. Susanto, Filsafat Ilmu, Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis, Bumi Aksara, Jakarta, 2011, hlm. 49.
[16] Ibid.,hlm. 50.
[17] Ibid
[18] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer, Sinar Harapan, Jakarta, 2005, hlm. 16.
[19] EM Zul Fajri. Ratu Aprilia Senja. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Difa Publiher, hal: 565.
[20] Ibid, hal: 803
[21] Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu dakwa, perpustakaan Nasional 1997, hal: 1
[22] Bertens, K., Sejarah Filsafat Yunani, Penerbit Kanisius, Yogyakarta,1999, hlm.20.
[23] Bahm, Archie, J., What Is Science, Reprinted from my Axiology; The   Science Of Values, 1980, hlm. 9.
[24] Van Paursen dkk, Pengantar Filsafat Ilmu. PT. Tiara Wacana, Yogya, 2003, hlm. 10.
[25] Koento Wibisono S. dkk., Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan  “Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte Gadjah Mada University Yogyakarta   “Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umum Mengenai Kelahiran Dan Perkembangannya Sebagai Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu, UGM, Yogyakarta, 1997.
[26] William S, Sahakian dan dan Mabel Lewis sahakian, realism of Pholosopy, , Mass: Schenkman, Cam Bridge, 1995, hlm. 12.

[27] Chalmers A.F, Apa itu yang dinamakan Ilmu. Suatu Penilaian tentang watak dan Status Ilmu Serta Metodenya, (Terjemahan redaksi Hasta Mitra,  Hasan Mitra), Jakarta, 1983.
[28] Sutan Takdir Alisjahbana, Pembimbing ke Filsafat, Dian Rakyat, Jakarta, 1981, hlm. 14.

[29] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer, Sinar Harapan, Jakarta, 2005, hlm. 16.
[30] Partap Sing Mehra, Pengantar Logika Tradisional. Putra Bardin, Bandung, 2001, hlm. 17.
[31] Jujun S, Op. Cit
[32] Jujun S, Ilmu Dalam Persepektif, Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakekat Ilmu, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2006.

[33] Jujun S, Filsafat ilmu. (sebuah Pengantar popoler), PT. Pancaranintan Indgraha, Jakarta, 2007.

[34] Ibid
[35] Stanly M. Honer dan Thomas C. Hunt 1988. Invitation to philosophy Belmont, Cal : Wadsworth.

[36] George F. Kneller.  Intruduktion to the Philosohy of  Education (New Yoark: John Weley), 1989.


[38] Jujun S, Op.Cit
[39] Ahmad Tafsir. Filsafat Umum. PT  Remaja Rosda Karya, Bandung, 2003, hal: 28-29.
[40] Ibid, hal: 23
[41] Mohammad Noor Syam. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Usaha Nasional. Surabaya, 1983, hal: 28-35
[42] Jujun S. Suriasumantri. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Filsafat, Pustaka Sinar Harapan, 2001,hal: 33
[43] Tim Dosen filsafat Ilmu Fakultas filsafat UGM. Filsafat Ilmu, Liberty. Yogyakarta, 2001, hal: 45-46
[44] Jujun S. Sumantri, Opcit, hal: 119
[45] Amsal Bakhtiar. Filsafat Ilmu. Raja Findo Persada. Jakarta 2004, hal: 20
[46] Wardi Bachtiar. Metodologi Penelitian Ilmu Dakwa, Pustakaan Nasional 1997, hal: 3
 




 

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More