Sabtu, 09 Maret 2013

Sikap Tegas Jusuf Kalla Soal Gereja di Depan 700 Pendeta

  • “Anda ini sudah punya 56.000 gereja seluruh Indonesia tidak ada masalah, seharusnya berterima kasih, pertumbuhan jumlah gereja lebih besar daripada masjid, kenapa urusan satu gereja ini anda sampai bicara ke seluruh dunia?”
  • Bahwa dalam konferensi gereja di hadapan 700 pendeta Pak Jusuf Kalla juga ditanya: “Mengapa di kantor-kantor mesti ada masjid?”
  • Dengan tegas JK menjawab: “Justru ini dalam rangka menghormati anda. Jumat kan tidak libur, anda libur hari Minggu untuk kebaktian. Anda bisa kebaktian dengan 5 kali shift, ibadah Jum’at cuma sekali. Kalau anda tidak suka ada masjid di kantor, apa anda mau hari liburnya ditukar; Jum’at libur, Minggu kerja. Pahami ini sebagai penghormatan umat Islam terhadap umat Kristen,” tegas Jusuf Kalla.
JAKARTA - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla bicara soal toleransi 56.000 gereja, itulah tema sebuah kiriman Broadcast BlackBerry Messenger yang banyak tersebar dan diterima redaksi voa-islam.com.
Isi dari pesan tersebut mengisahkan Jusuf Kalla yang kini menjadi Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang menanggapi secara tegas pertanyaan tentang GKI Yasmin, Bogor di hadapan 700 pendeta. Ia juga berbicara soal toleransi yang harus berasal dari kedua belah pihak. Berikut ini kutipan lengkap kisah Jusuf Kalla yang berani bersikap tegas di hadapan para pendeta.
Jumat sore kemarin (1/3/2013), Pak Jusuf Kalla memimpin rapat DMI. Sehabis Magrib beliau cerita bahwa baru saja ceramah di Makassar dalam konferensi gereja di hadapan 700 pendeta. Dalam sesi tanya jawab ada yang tanya tentang gereja di Yasmin (GKI Yasmin- red.)  Bogor beliau menjawab: “Anda ini sudah punya 56.000 gereja seluruh Indonesia tidak ada masalah, seharusnya berterima kasih, pertumbuhan jumlah gereja lebih besar daripada masjid, kenapa urusan satu gereja ini anda sampai bicara ke seluruh dunia?”
“Toleransi itu kedua belah pihak, anda juga harus toleran. Apa salahnya pembangunan dipindah lokasi sedikit saja, Tuhan tidak masalah kamu mau doa di mana. Izin Membangun gereja bukan urusan Tuhan, tapi urusan Walikota,” begitu khasnya Jusuf Kalla dengan nada yang tinggi.
Kemudian Jusuf Kalla bercerita lagi, bahwa dalam konferensi gereja di hadapan 700 pendeta Pak Jusuf Kalla juga ditanya: “Mengapa di kantor-kantor mesti ada masjid?”
Dengan tegas JK menjawab: “Justru ini dalam rangka menghormati anda. Jumat kan tidak libur, anda libur hari Minggu untuk kebaktian. Anda bisa kebaktian dengan 5 kali shift, ibadah Jum’at cuma sekali. Kalau anda tidak suka ada masjid di kantor, apa anda mau hari liburnya ditukar; Jum’at libur, Minggu kerja. Pahami ini sebagai penghormatan umat Islam terhadap umat Kristen,” tegas Jusuf Kalla.
Tentu saja kisah Jusuf Kalla yang begitu berani mengambil sikap tegas itu jelas membuat kagum umat Islam yang mendengarnya. Namun demi memperoleh kebenaran cerita tersebut jurnalis voa-islam.com mengkonfirmasi ustadz Fahmi Salim yang turut serta dalam rapat DMI bersama Jusuf Kalla.
Wakil Sekjen MIUMI tersebut akhirnya membenarkan cerita Jusuf Kalla tersebut. “itu betul, disampaikan bapak Jusuf Kalla saat rapat di DMI Jum’at sore kemarin. Jadi beliau menceritakan apa yang disampaikan saat diundang oleh sinode gereja di Makassar,” kata ustadz Fahmi Salim, kepada voa-islam.com, Ahad (3/3/2013).
Semoga sikap bijak dan tegas Jusuf Kalla itu bisa dicontoh oleh para pemimpin, tokoh maupun negarawan yang lain. Jangan sampai demi meraih simpati minoritas seorang Muslim menanggalkan pembelaannya terhadap kepentingan umat Islam. [Ahmed Widad] (voa-islam.com) Ahad, 03 Mar 2013
***
Perbandingannya dua kali lipat
  • 135.000 gereja untuk orang Kristen (kurang dari 10 persen dari jumlah penduduk).
  • 600 ribu  Masjid dan Mushola untuk Umat Islam (88 persen atau 210 juta orang dari 240 juta penduduk Indonesia).
  • Kalau jumlah masjid disejajarkan dengan jumlah gereja maka seharusnya umat Islam Indonesia memiliki  1.215.000 masjid. Tetapi kenyataannya baru 600 ribu masjid dan mushalla. Jadi Kristen telah melampaui dua kali lipat dalam hal membangun gereja dibanding Umat Islam dalam membangun Masjid dan Mushalla. Namun yang sering ribut justru orang Kristen, sampai  memalsu tanda tangan warga, lalu memutar balikkan fakta disebarkan ke seluruh dunia, masih pula orang-orang kafir yang dalam QS Al-Baqarah ayat 120 tidak akan rela terhadap Islam itu melabrak istana Negara segala.
***
Inilah bukti gencarnya kristenisasi di Indonesia
***
135.000 Gereja Bercokol di Indonesia
Jakarta (SI ONLINE)-  Meski Indonesia negara dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia, namun ternyata pertumbuhan Gereja Kristen (Katolik dan Protestan) luar biasa pesatnya, dimana setiap tahunnya mencapai 190 persen, sementara pertumbuhan Masjid hanya 60 persen. Hal itu menunjukkan Kristenisasi terhadap umat Islam Indonesia semakin intensif dilakukan dengan dana yang tidak terbatas jumlahnya.
Dengan jumlah pemeluk Kristen kurang dari 10 persen, namun jumlah Gereja sudah mencapai 135 ribu  sementara Masjid dan Mushola hanya 600 ribu, padahal jumlah umat Islam mencapai 88 persen atau 210 juta orang dari 240 juta penduduk Indonesia. Jadi tidaklah benar jika penganut Kristen mendapat diskriminasi di Indonesia, seperti yang selama ini digembar-gemborkan para pimpinan gerombolan fanatik fundamentalis GKI Yasmin di Bogor.
Dihadapan peserta Rapat Kerja Kementerian Luar Negeri dengan Perwakilan RI di Luar Negeri yang diadakan di Kemlu, Pejambon, Jakarta, Rabu (22/2/2012), Sekjen Kementerian Agama Bahrul Hayat mewakili Menag Suryadharma Ali menjelaskan, umat Kristen di Indonesia tidak pernah mengalami diskriminasi.
“Sekarang ini jumlah Gereja di Indonesia mencapai 135 ribu dengan pertumbuhan sebesar 190 persen pertahunnya atau tercepat di dunia. Pembangunan Gereja di Indonesia tidak pernah mengalami masalah kecuali hanya satu yakni Gereja Yasmin dan itupun hanya karena masalah perijinan,” ungkap Bahrul Hayat.
Menurut Bahrul Hayat, untuk membangun tempat ibadah sudah ada aturannya dan telah disepakati keenam Majelis Agama yang ada di Indonesia, sehingga sudah sangat jelas ketentuannya yang harus dihormati bersama.
Bahrul Hayat menceriterakan, sebelumnya dirinya bersama Menag Suryadharma Ali baru saja menerima kunjungan delegasi Parlemen Jerman yang juga menanyakan persoalan Gereja Yasmin. Setelah mendapat penjelasan mengenai duduk persoalannya karena masalah perijinan bukan masalah agama, mereka baru memahaminya. (*)
Rep: Abdul Halim
Abdul Halim | Kamis, 23 Februari 2012 | 13:35:19 WIB/ suaraislam online
(nahimunkar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More